Penguin Kaisar Kini Terancam Punah, Es Antartika Mencair Jadi Penyebabnya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Ilustrasi Penguin Kaisar. Foto: vladsilver/Shutterstock

Siapa nan tak kenal penguin kaisar? Burung laut bertubuh bongsor dengan corak kuning-oranye keemasan di lehernya ini adalah ikon sejati dari Benua Antartika. Sayangnya, nasib hewan menggemaskan ini sekarang berada di ujung tanduk.

Organisasi konservasi global, International Union for Conservation of Nature (IUCN), resmi meningkatkan status penguin kaisar (Aptenodytes forsteri) dari "Mendekati Terancam" (Near Threatened) menjadi "Terancam Punah" (Endangered) pada Kamis (9/4) waktu setempat.

Keputusan ini tercatat dalam pembaruan Daftar Merah IUCN (IUCN Red List). Biang kerok dari krisis ini sudah bisa ditebak: Perubahan suasana akibat ulah manusia nan membikin es di Antartika terus menyusut drastis.

Penguin kaisar sangat berjuntai pada es laut nan stabil (fast ice) untuk hidup, berburu, hingga berkembang biak. Mereka berkembang biak di tengah ganasnya musim dingin, di mana sang jantan bakal mengerami telur di atas kakinya.

Permukaan es nan kaku juga menjadi "taman kanak-kanak" bagi anak-anak penguin saat musim tukar bulu, tepatnya sebelum bulu mereka rapat air.

instagram embed

Masalahnya, rekor suhu dunia nan terus memanas membikin es laut Antartika mencair dan pecah lebih sigap pada musim semi. Jika es pecah sebelum anak-anak penguin bisa berenang, tragedi mematikan tak bisa dihindari. Anak-anak penguin itu bakal tenggelam ke laut.

"Tanpa es laut, mereka bakal sangat kesulitan untuk memperkuat hidup," kata Christophe Barbraud, intelektual dari lembaga riset Prancis, CNRS.

Citra satelit telah membuktikan krisis ini. Sepanjang tahun 2009 hingga 2018 saja, sekitar 20.000 penguin dewasa, alias sekitar 10 persen dari total populasi, telah lenyap. IUCN memproyeksikan, jika emisi gas rumah kaca tidak dipangkas drastis, populasi penguin kaisar bakal berkurang separuhnya pada tahun 2080-an.

Bukan hanya penguin kaisar nan merana. Daftar Merah IUCN terbaru juga memasukkan anjing laut bulu Antartika (Antarctic fur seal) ke dalam daftar "Terancam Punah" (Endangered).

Populasi mereka ambruk lebih dari 50 persen, dari 2,1 juta ekor pada 1999 menjadi hanya 944 ribu ekor pada 2025. Pemicunya adalah kelaparan massal. Suhu laut nan menghangat mendorong udang krill (makanan utama mereka) berenang ke laut nan lebih dalam untuk mencari air dingin. Akibatnya, bayi-bayi anjing laut banyak nan meninggal lantaran kekurangan nutrisi di tahun pertama mereka.

Lebih tragis lagi, anjing laut gajah selatan (southern elephant seal) sekarang berstatus "Rentan" (Vulnerable) gara-gara pandemi Flu Burung (HPAI) nan sangat patogen. Penyakit ini menyebar dari burung ke mamalia, membunuh lebih dari 90 persen anak anjing laut nan baru lahir di beberapa koloni.

Ilustrasi Penguin Kaisar. Foto: Alexey Seafarer/Shutterstock

Alarm Peringatan bagi Bumi

Direktur Jenderal IUCN, Dr. Grethel Aguilar, menegaskan bahwa status Daftar Merah ini kudu menjadi peringatan keras bagi seluruh negara.

"Penurunan populasi penguin kaisar dan anjing laut bulu Antartika adalah sirine kebangkitan tentang realitas perubahan iklim. Peran Antartika sebagai 'penjaga beku' planet kita tak tergantikan, dia menstabilkan suasana dan menjadi tempat berlindung bagi satwa liar nan unik," ujarnya.

Senada dengan Aguilar, CEO BirdLife International, Martin Harper, mendesak tindakan nyata. "Perubahan suasana mempercepat krisis kepunahan di depan mata kita. Pemerintah kudu bertindak sekarang juga untuk segera melakukan dekarbonisasi ekonomi kita," tegas Harper.

Nasib hewan-hewan ikonik ini ada di tangan manusia. Jika kita kandas mengerem laju pemanasan global, penguin kaisar mungkin hanya bakal menjadi kenangan di akhir abad ini.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan