Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong penataan area Pantai Kuta di tengah rumor pengikisan dan menurunnya kunjungan wisatawan. Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menegaskan bahwa proyek penataan sebenarnya sudah dirancang sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Badung.
Ia menjelaskan bahwa perencanaan area Kuta, termasuk Legian dan Seminyak, telah melalui kajian matang, seperti feasibility study dan perincian engineering design (DED). Program tersebut sekarang menjadi bagian dari proyek pemerintah pusat.
"Penataan Kuta itu sudah kami siapkan sejak lama, mulai dari studi kepantasan sampai DED. Sekarang dilanjutkan sebagai program pusat," ujar Giri Prasta, kepada kumparan.
Salah satu konsentrasi utama nan sekarang tengah dilakukan Pemprov adalah penanganan pengikisan nan terjadi di Pantai Kuta. Menurut Giri Prasta, kejadian ini dipengaruhi oleh kondisi arus laut nan kompleks.
"Pantai Kuta ini punya lima arus laut nan susah diprediksi. Tapi kami sudah siapkan teknologi seperti pemecah ombak untuk mengendalikan arus," jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa pasir nan mengalami pengikisan tidak lenyap jauh, melainkan tetap berada di sekitar palung laut, sehingga memungkinkan untuk direstorasi kembali ke garis pantai.
Ke depan, pemerintah menargetkan pembentukan sempadan pantai hingga 110 meter dengan pasir putih nan lebih tertata.
Wisata Kuta Sepi, Faktor Global Ikut Berpengaruh
Menanggapi keluhan pedagang soal sepinya visitor di Kuta, Giri Prasta menilai kondisi tersebut tidak lepas dari beragam faktor, termasuk situasi global.
"Kita tidak berambisi ada bentrok dunia, tapi faktanya itu berdampak. Penerbangan berkurang, biaya avtur naik, tiket pesawat juga ikut mahal," tutur Giri Prasta.
Ia mencontohkan lonjakan nilai tiket pesawat, termasuk kelas Bisnis, nan membikin mobilitas visitor menjadi terbatas.
Meski demikian, tingkat okupansi hotel di Kuta tetap berada di nomor sekitar 70 persen, sementara area Sanur apalagi mencapai 80 persen.
Pergeseran ke Canggu Dinilai Sementara
Perkembangan area seperti Canggu juga disebut menjadi salah satu aspek perubahan pola kunjungan wisatawan. Namun, Giri Prasta menilai perihal ini sebagai dinamika sementara.
"Kalau sekarang terasa berkurang, itu bagian dari proses penataan. Nanti jika sudah selesai dan lebih bagus, visitor pasti kembali," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya arah pariwisata Bali ke depan nan lebih berkualitas, bukan sekadar kuantitas.
Sementara itu, selain penataan pantai, pemerintah juga menyiapkan sejumlah prasarana pendukung untuk meningkatkan aksesibilitas area wisata.
Salah satunya adalah rencana tol laut nan menghubungkan Bandara Ngurah Rai langsung ke area Canggu dan Berawa, tanpa melalui jalur darat.
"Kita siapkan solusi untuk kemacetan, termasuk tol laut dan underpass di Simpang Jimbaran nan ditargetkan mulai 2026," jelas Giri Prasta.
Tak hanya itu, penataan area Kuta juga bakal dilengkapi jogging track, hingga rencana transportasi ringan di sepanjang pantai.
Meski ada persepsi penurunan kunjungan, Giri Prasta menegaskan bahwa Kuta tetap mempunyai daya tarik kuat, terutama bagi visitor mancanegara.
"Saya kira bukan berkurang, tapi ini pengganti saja. Nanti bakal kembali lagi, apalagi visitor Australia itu sudah menganggap Bali sebagai rumah kedua," katanya.
Ia optimistis, memasuki musim liburan pertengahan tahun seperti Juni dan Juli, area Kuta bakal kembali ramai dikunjungi wisatawan.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·