Indeks utama saham Amerika Serikat namalain Wall Street menghadapi ujian setelah reli tajam. Seiring pekan padat laporan keahlian korporasi, dipimpin emiten teknologi besar, serta rapat Federal Reserve nan berpotensi menandai akhir masa kedudukan Jerome Powell sebagai kepala bank sentral AS.
Mengutip Reuters, indeks saham melonjak bulan ini, bangkit dari kekhawatiran akibat ekonomi akibat bentrok di Timur Tengah hingga mencetak rekor tertinggi. Selama sepekan, 20 April-24 April 2026 Indeks referensi S&P 500 (.SPX) naik sekitar 13 persen sejak 30 Maret. Dalam periode nan sama, Nasdaq Composite (.IXIC) nan didominasi saham teknologi melonjak lebih dari 19 persen.
“Kita sudah melaju sangat jauh dalam waktu singkat. Pekan depan bakal menjadi pekan besar untuk mengkonfirmasi reli ini,” Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di Ameriprise.
Meskipun gencatan senjata di Iran meredakan kekhawatiran eskalasi nan lebih parah dan membantu mendorong reli saham, perkembangan mengenai perang AS-Israel dengan Iran tetap berpotensi mengguncang nilai aset dalam beberapa hari ke depan.
Ekspektasi untung nan kuat tahun ini telah meningkatkan optimisme penanammodal terhadap saham, dan musim laporan kuartal pertama dimulai dengan solid. Hingga Jumat, 81,3 persen perusahaan S&P 500 membukukan untung di atas ekspektasi analis, dengan total untung diperkirakan naik 16,1 persen pada kuartal pertama, menurut Tajinder Dhillon, Kepala Riset Laba di LSEG.
Lebih dari sepertiga perusahaan S&P 500 dijadwalkan merilis laporan pekan depan saja. Di antaranya lima dari “Magnificent Seven”, golongan perusahaan berkapitalisasi besar nan menjadi motor utama pasar bullish selama lebih dari tiga tahun terakhir.
Microsoft (MSFT.O), Alphabet (GOOGL.O), Amazon (AMZN.O), dan Meta Platforms (META.O) bakal melaporkan keahlian pada Rabu, dengan perhatian penanammodal tertuju pada rencana shopping modal besar mereka untuk membangun pusat info dan prasarana lain guna mendukung aplikasi kepintaran buatan. Apple (AAPL.O) menyusul pada Kamis, setelah sebelumnya mengumumkan pergantian CEO.
“Perusahaan-perusahaan ini punya banyak nan kudu dibuktikan, dan agar nilai saham mereka bisa naik lebih tinggi, mereka betul-betul kudu membikin penanammodal terkesan dari sisi kinerja,” kata Saglimbene.
Setelah awal tahun nan beragam, saham-saham Magnificent Seven dan sektor teknologi secara umum mencatat keahlian kuat bulan ini. Saham produsen chip menjadi nan paling menonjol, dengan indeks semikonduktor Philadelphia SE (.SOX) naik selama 18 sesi berturut-turut hingga Jumat.
Perusahaan lain nan juga melaporkan keahlian pekan depan termasuk produsen obat penurun berat badan Eli Lilly (LLY.N), raksasa daya Exxon Mobil (XOM.N), dan perusahaan pemrosesan pembayaran Visa (V.N).
Di samping itu, The Fed secara luas diperkirakan bakal menahan suku kembang dalam pernyataan kebijakan pada Rabu di akhir rapat dua hari mereka. Investor bakal mencari pandangan terbaru dari para kreator kebijakan mengenai akibat perang terhadap ekonomi dan arah suku kembang ke depan.
Kekhawatiran lonjakan nilai daya akibat perang membikin penanammodal menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku kembang nan biasanya mendukung pasar saham tahun ini. Pasar sekarang memperkirakan kurang dari satu kali pemangkasan sebesar 25 pedoman poin hingga Desember, menurut info LSEG, setelah sebelumnya mengantisipasi setidaknya dua kali sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
“Meski demikian The Fed nan menahan suku bunga, relatif mendukung, dibanding bank sentral lain nan diperkirakan bakal meningkatkan suku kembang dalam beberapa pertemuan ke depan,” kata Marvin Loh, kepala strategi makro dunia di State Street.
Rapat ini juga berpotensi menjadi nan terakhir bagi Powell sebagai ketua, dengan masa jabatannya berhujung pada 15 Mei. Mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, nan dipilih Presiden Donald Trump sebagai kandidat ketua berikutnya, telah menjalani sidang konfirmasi di Senat AS pekan ini.
Kabar muncul pada Jumat bahwa Departemen Kehakiman AS menutup penyelidikan terhadap Powell mengenai biaya pembaharuan instansi pusat The Fed, menghilangkan halangan krusial bagi Warsh untuk mengambil alih.
Pergerakan Wall Street Pekan ini juga bakal diwarnai rilis info pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Maret, parameter inflasi pilihan The Fed. Kedua laporan ini dapat memberi gambaran akibat ekonomi bentrok Timur Tengah sejauh ini.
Perang tetap menjadi rumor utama bagi pasar, kata Sid Vaidya, Kepala Strategi Investasi di TD Wealth.
“Kekhawatiran kami adalah pasar memang sudah pulih, tetapi belum ada resolusi permanen. Semakin lama bentrok berlangsung, semakin besar akibat terhadap ekonomi riil, nan pada akhirnya bisa memicu tekanan dan volatilitas di pasar,” imbuhnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·