Karawang, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mendorong skema baru pengedaran pangan lewat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dengan sasaran utama memangkas kekuasaan tengkulak sekaligus mengalihkan untung besar langsung ke petani dan masyarakat desa.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menilai, selama ini rantai pasok pangan terlalu panjang dan tidak efisien. Banyaknya jalur pengedaran membikin margin untung justru menumpuk di perantara (middleman), bukan di produsen.
Hitungan Kementan menunjukkan margin nan dinikmati middleman berkisar 10% hingga 30%. Jika diakumulasi, nilainya mencapai sekitar Rp313,08 triliun, nomor nan dinilai sebagai kebocoran besar dalam sistem pangan nasional.
Lewat skema Koperasi Desa Merah Putih, alur pengedaran dipangkas drastis, dari petani langsung ke koperasi di desa, lampau ke konsumen akhir. Dengan pola ini, margin diperkirakan menyusut menjadi sekitar Rp50 triliun. Artinya, ada potensi sekitar Rp263 triliun nan bisa dialihkan kembali ke petani dan ekonomi desa.
"Inilah dibangun Koperasi Merah Putih. Dari petani, koperasi langsung di desa, ke konsumen. Artinya apa? Kalau ini untung koperasi Rp50 triliun, ini (potensi margin) Rp263 triliun, ini dibagi ke petani pendapatan, dan ini menjadi daya beli. NTP (nilai tukar petani) naik, ini juga daya beli naik," kata Amran saat meninjau Gudang JDP Karawang 1 Logistic Park di Karawang, Kamis (23/4/2026).
Data Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 berada di level 125,35, turun tipis 0,08% dibandingkan bulan sebelumnya. Pemerintah berambisi model pengedaran baru ini bisa membalik tren tersebut.
Tak hanya soal efisiensi, Amran juga menyoroti praktik curang di lapangan, termasuk manipulasi kualitas beras nan dijual dengan nilai tidak sesuai. Menurutnya, kondisi ini makin menekan konsumen sekaligus merugikan petani.
"Middleman, kelak solusi tercepatnya adalah memang koperasi," imbuhnya.
Koperasi Desa Merah Putih juga diproyeksikan menjadi penyerap utama hasil pertanian melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan adanya offtaker nan jelas, produksi petani diharapkan tidak lagi terbuang akibat kelebihan pasokan.
"MBG, offtaker dari 160 juta petani Indonesia. Offtaker-nya. Jadi dia membeli, tidak lagi ada kita dengar baru-baru ini, tomat dibuang. Kenapa? Ada nan menunggu MBG. Jadi MBG tidak berdiri sendiri," jelasnya.
Lebih jauh, pemerintah memandang penguatan Koperasi Desa Merah Putih sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi perdesaan. Jika perputaran duit terus terjadi di desa, dampaknya diyakini bisa berlipat hingga ribuan triliun rupiah, sekaligus menahan aliran ekonomi agar tidak terus tersedot ke kota.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·