Pakar Sebut Perang Dunia 3 Sudah Meledak, Banyak Orang Tidak Sadar

Sedang Trending 23 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ali beranggapan bahwa Perang Dunia III sebenarnya sudah dimulai saat ini. Namun, situasinya dianggap berbeda dan tidak lagi sama dengan pola perang bumi sebelumnya.

Konflik kali ini tidak lagi berbentuk pertempuran bersenjata secara terbuka seperti pada Perang Dunia II, namun terjadi secara terselubung dan tersebar dalam beragam corak nan berbeda. Pandangan tersebut salah satunya disampaikan oleh Dmitry Trenin. Ia merupakan seorang peneliti di Institut Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional Rusia sekaligus personil dari Dewan Urusan Internasional Rusia (RIAC).

"Perang bumi telah dimulai. Hanya saja, tidak semua orang menyadarinya," ujar Trenin dalam kajian terbarunya nan pertama kali diterbitkan oleh majalah Profile, seperti dikutip RT beberapa waktu lalu.

Trenin menilai bahwa fase pra perang dunia bagi Rusia dimulai sejak 2014, bagi China sejak 2017, dan bagi Iran sejak 2023.

Dalam pandangannya, sejak saat itu bumi telah memasuki babak bentrok baru nan semakin intensif. Bentuknya bukan sekadar adu kekuatan militer, melainkan bentrok menyeluruh nan mencakup sabotase ekonomi, agitasi sosial, serta destabilisasi internal negara-negara lawan.

Trenin juga menyoroti keterlibatan langsung negara-negara NATO, seperti Inggris dan Prancis, dalam serangan terhadap sasaran Rusia melalui support mereka kepada Ukraina. "Ukraina hanyalah alat. Brussels sedang mempersiapkan perang nan lebih luas," katanya.

Ia menilai perang dunia ini dipicu oleh ketakutan Barat terhadap kebangkitan kekuatan baru seperti Rusia dan China, nan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan geopolitik dan ideologi Barat.

"Ini bukan sekadar pertarungan geopolitik, ini adalah perang eksistensial bagi Barat. Globalisme tidak mentolerir alternatif," ujarnya.

Trenin mendorong Rusia untuk tidak lagi bersikap defensif. Ia menekankan pentingnya mobilisasi nasional nan cerdas, penguatan sektor teknologi, ekonomi, hingga demografi, serta konsolidasi dengan mitra strategis seperti Belarus dan Korea Utara. Dalam analisisnya, kerapuhan dalam kesatuan Uni Eropa kudu menjadi celah taktis bagi Rusia.

Ia juga menyebut bahwa kembalinya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Gedung Putih memberi ruang taktis untuk mengurangi tekanan militer AS terhadap Rusia, namun mengingatkan bahwa kebijakan luar negeri AS tetap pada dasarnya berkarakter konfrontatif.

Dalam pernyataan nan lebih tajam, Trenin apalagi menyebut bahwa jika eskalasi tak dapat dihindari, maka Rusia kudu siap melakukan serangan preemptif, termasuk dengan senjata nuklir jika diperlukan.

"Pencegahan kudu aktif. Jika perlu, kita kudu siap menggunakan langkah unik dengan kesadaran penuh bakal konsekuensinya," kata dia.

Menurutnya, kemenangan dalam bentrok ini tidak diukur dari pendudukan wilayah, melainkan dari keberhasilan menggagalkan rencana musuh. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa perang saat ini mencakup seluruh lini: dari militer hingga narasi informasi.

"Waktu untuk ilusi telah berakhir. Kita berada dalam perang dunia. Satu-satunya jalan ke depan adalah melalui tindakan nan berani dan strategis," tutup Trenin.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News