Ortu Korban Sebut Daycare Little Aresha Lebih Kejam dari Kamp Guantanamo

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Suasana Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta nan digerebek polisi mengenai kasus kekerasan dan penelantaran anak. Foto: Panji/kumparan

Sebanyak 53 anak berumur di bawah 2 tahun menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, mengatakan penyiksaan nan terjadi di sana sangat tak manusiawi.

Noorman membandingkan kondisi di daycare itu dengan nan terjadi di Kamp Guantanamo. Kamp Guantanamo merupakan penjara Amerika Serikat nan dikenal dengan penyiksaannya dan pelanggaran HAM.

"Luar biasa ternyata, enggak manusiawi, jika Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," kata Noorman ditemui di Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu (26/4).

Luka di Tubuh hingga Pneumonia

Noorman mengatakan anaknya mengalami pneumonia serta luka-luka di bibir dan punggung.

"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh," ungkapnya.

Dia sempat menanyakan luka nan dialami anaknya ke pihak daycare. Namun, menurutnya, pihak daycare selalu membantah.

"Kalau nan punggung sama bibir itu, saya sangat konsen, saya kadang-kadang mandiin, wong punggung itu enggak ada (luka) sama sekali. Kalau luka goresan dan lain-lain, pas di daycare itu langsung kaya difoto sama ya, kata sekolah, 'Ini, adik sudah luka dari rumah, lho.' Itu mulai janggal," jelas dia.

"Yang kedua juga sama, bibir, bibir sampai ngelopek-ngelopek itu tetap ada kayak jejak merah-merah. Saya juga enggak mungkin ini di rumah nggak apa-apa," ujarnya.

Anak Noorman juga divonis sakit pneumonia dari usia 3 bulan.

"Kita nggak nyangka kondisi di sana (daycare nan jadi penyebabnya)," ucap Noorman.

Ada dua anak nan telah dititipkan Norman di daycare tersebut: nan pertama pada 2022-2025; sementara satu anak lagi 2024 sampai penyergapan kemarin.

"Yang 2022 mulai 2 tahun lebih sampai 5 tahunan. nan kedua nan laki-laki dari 3 bulan sampai 2,5 tahun," bebernya.

Menangis Setiap Mau Berangkat ke Daycare

Suasana Daycare Little Aresha di Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (26/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Noorman bercerita, anaknya setiap pagi ketika dimandikan selalu menangis. Namun ini terjadi saat hari Senin-Jumat saja. Sementara saat akhir pekan alias libur tak ada tangisan.

"Kalau Sabtu sampai Minggu, kayak hari ini, ya natural, tidak ada nangis ketakutan," tutur Noorman.

Video Anak Diikat

Usai penyergapan kemarin, Noorman sempat memandang foto nan ditunjukkan polisi. Foto itu membuktikan dugaan kekerasan di daycare tersebut.

"Pas anak-anak tetap diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok. Ada nan tetap berdiri di cagak pintu. Usianya udah besar terus apa namanya diikat. Terus nan dibedong," papar Noorman.

Pada foto nan bayi dibedong Noorman sempat berupaya memastikan apakah ada anaknya difoto. Namun saat itu kondisi dirinya sudah panik dan tidak bisa memastikannya.

"Saya juga akhirnya trauma, trauma di situ, jika lihat itu (foto) pasti nangis," katanya.

Tertipu Branding

Suasana Daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta nan digerebek polisi mengenai kasus kekerasan dan penelantaran anak. Foto: Panji/kumparan

Noorman mengatakan daycare ini di-branding sedemikian rupa nan membikin banyak orang tertarik, termasuk dirinya. Daycare ini menawarkan jam antar-jemput nan fleksibel, penawaran juga disampaikan dengan tutur kata nan halus.

Biaya untuk menitipkan anak di sana sebesar Rp 1 juta setiap bulan.

"Dan jujur, branding-nya itu bagus. Body language-nya ibunya itu bagus. Ketika saat kita datang, itu langsung sendiri nan menyambut, beliau, owner-nya sendiri. Langsung, ketika anak sedih bisa ditenangkan," ungkap dia.

Selain itu di depan daycare juga dicantumkan beragam gelar pengurusnya, ada nan S1 sampai S2.

"Itu nan jadi kita percaya. Depan pintu masuk kepengurusan yayasan itu komplit dan semua gelarnya S2. Ada perawat, ada bagian ini, ada bagian itu. Menambah kepercayaan kami," jelas dia.

Namun, akses orang tua ke daycare dibatasi. Misal mengantar dan menjemput hanya sampai depan. Aktivitas di dalam tidak bisa dilihat.

"Kami beranggapan dia itu menerapkan, menjaga Artinya, orang dari luar, mungkin itu ada anak bayi-bayi dan mereka juga bermasker. nan bikin kami terlena itu branding," ungkap Noorman.

Dihukum Seberat-beratnya

Sejauh ini, polisi telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka. Mereka adalah 1 pemimpin yayasan, 1 kepala sekolah, dan 11 pengasuh. Noorman berambisi para pelaku dihukum seberat-beratnya. Di sisi lain dia juga merasa bersalah terhadap anaknya.

"(Pelaku) dihukum nan seberat-beratnya. Karena saya jika sudah ngelihat nan diikat, itu sudah miris. Menangis. Kayak rasa salah lah menitipkan anak di depan Allah tidak amanah," tuturnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan