Menjangkau yang Tak Terjangkau: Reorientasi Pendidikan Nonformal

Sedang Trending 9 jam yang lalu
Ilustrasi reorientasi pendidikan nonformal. Foto: Generated by AI

Setiap tahun, ratusan ribu anak Indonesia keluar dari sistem pendidikan. Mereka tidak betul-betul hilang, tetapi perlahan menjauh dari ruang nan semestinya menjamin masa depan mereka.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sejak 2022 hingga 2024, lebih dari 3 juta anak berada di luar sekolah. Pada saat nan sama, nomor putus sekolah di beberapa jenjang pendidikan justru mengalami peningkatan. Fakta ini mengingatkan kita bahwa tetap ada celah sistem pendidikan nan belum sepenuhnya terjawab.

Di satu sisi, beragam upaya terus dilakukan, mulai dari penguatan kurikulum hingga ekspansi akses pendidikan. Namun di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa tidak semua anak mempunyai kesempatan nan sama untuk memperkuat dalam sistem formal. Faktor ekonomi, kondisi sosial, dan keterbatasan akses tetap menjadi tantangan nan nyata.

Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek

Di titik inilah, langkah pandang kita tentang pendidikan perlu diperluas.

Dalam kerangka Pendidikan Nonformal, proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Pendidikan nonformal datang melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program kesetaraan Paket A, B, dan C, serta beragam training berbasis organisasi nan menjangkau masyarakat secara lebih fleksibel.

Data Kementerian Pendidikan menunjukkan jumlah PKBM di Indonesia telah mencapai belasan ribu unit nan tersebar hingga ke beragam daerah. Lembaga ini menjadi garda terdepan dalam menjangkau masyarakat nan tidak terlayani pendidikan formal.

Sejumlah siswa mengikuti aktivitas belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Program kesetaraan setiap tahun menampung ratusan ribu penduduk belajar, memberikan kesempatan bagi mereka nan sempat terhenti langkahnya. Tidak sedikit lulusan Paket C nan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi maupun terserap di bumi kerja.

Bagi sebagian masyarakat, jalur ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Pendidikan nonformal menjadi ruang kedua bagi buru, pekerja informal, hingga ibu rumah tangga untuk tetap belajar dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Keunggulan pendidikan nonformal terletak pada kemampuannya menyesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pendekatannya lebih lentur, lebih kontekstual, dan lebih sigap merespons perubahan.

Ilustrasi UNESCO. Foto: Alexandros Michailidis/Shutterstock

Hal ini sejalan dengan pendapat lifelong learning nan di sorong oleh UNESCO, bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang kehidupan nan tidak berakhir di bangku sekolah.

Meski demikian, peran strategis pendidikan nonformal tetap memerlukan penguatan. Di beragam daerah, PKBM dan lembaga sejenis tetap menghadapi keterbatasan sarana, support anggaran, serta kesejahteraan tenaga pendidik. Tantangan ini tentu sangat memengaruhi optimasi peran mereka di lapangan.

Karena itu, krusial bagi kita untuk menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Bukan sekadar pelengkap, melainkan juga sebagai mitra strategis dalam memperluas akses dan memastikan keberlanjutan belajar bagi seluruh penduduk negara.

Ilustrasi kebijakan. Foto: SsCreativeStudio/Shutterstock

Penguatan kebijakan, support sumber daya, serta kerjasama dengan masyarakat dan sektor swasta menjadi langkah nan perlu terus didorong. Dengan demikian, pendidikan nonformal dapat berkembang lebih optimal dan menjangkau lebih banyak masyarakat nan membutuhkan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mereka nan bisa memperkuat dalam sistem, melainkan juga tentang gimana kita memastikan tidak ada nan tertinggal di luar.

Pendidikan nonformal mungkin tidak selalu berada di garis depan sorotan. Namun dalam banyak hal, dia telah menjadi ruang angan tempat di mana kesempatan kedua tetap terbuka, dan masa depan tidak sepenuhnya hilang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan