Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengungkap sejumlah hambatan logistik penyediaan konsumsi haji 2026, termasuk pengiriman beras nan tersendat akibat perang.
Selain beras, Gus Irfan menyinggung hambatan perizinan pengiriman ramuan makanan untuk jemaah haji. Ia mengatakan proses pengedaran sempat tersendat lantaran persyaratan manajemen dari otoritas terkait.
“Kendala berupa persyaratan health certificate dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tetap dalam proses koordinasi, serta adanya 32 ton nan kandas kirim via laut dan saat ini dilakukan re-ekspor melalui jalur udara,” ucap Gus Irfan dalam Rapat Kerja berbareng Komisi VIII DPR RI di DPR, Rabu (8/4).
Gus Irfan kemudian menjelaskan, pengiriman beras dalam jumlah besar nan dilakukan sebelumnya terdampak situasi bentrok Iran nan terjadi setelah proses pengapalan.
“Termasuk Bulog kemarin sempat mengapalkan pada awal Ramadan sejumlah 2.200 ton beras, tapi dua hari setelah pengapalan meletus perang sehingga kemungkinan besar tidak bakal bisa jadi diberangkatkan berasnya,” tutur Irfan.
Ia menambahkan, kebutuhan beras nan tetap memungkinkan dikirim saat ini difokuskan untuk petugas haji. Pemerintah menyiapkan pengiriman melalui kargo udara.
“Total kebutuhan beras 30 ton diperuntukkan bagi 1.600 petugas. Jadi beras nan kemungkinan bisa kita kirim hanya untuk nan petugas, dengan spesifikasi kualitas beras Pandan Wangi Cianjur premium, long grain, dan tingkat pecahan maksimal 5 persen serta nilai di bawah pasar alias ritel,” ucap Irfan.
Saat ini produksi beras tetap berjalan sembari menuntaskan manajemen ekspor-impor. Pengiriman ditargetkan dilakukan dalam waktu dekat.
“Saat ini proses produksi tengah berjalan di Cianjur berbarengan dengan penyelesaian manajemen ekspor-impor. Pengiriman direncanakan menggunakan kargo udara dengan sasaran keberangkatan 12 April,” kata Irfan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·