Mendagri Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan pentingnya pembangunan kota nan berorientasi pada kesehatan masyarakat melalui penyediaan ruang hijau dan penguatan konsep kota ramah pejalan kaki (walkable city).
Pendekatan ini dinilai sebagai langkah strategis sekaligus efisien untuk menekan biaya kesehatan dalam jangka panjang.
Dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Mendagri mengingatkan pembangunan wilayah tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga perlu mempertimbangkan akibat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
“Dengan membangun taman nan banyak, ruang hijau nan banyak untuk aktivitas olahraga, ada pedesterian, itu jauh lebih murah dibanding biaya mereka untuk mensubsidi masyarakat nan terkena penyakit," tegasnya di Banda Aceh, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, konsep walkable city mendorong terciptanya ruang kota nan nyaman untuk melangkah kaki, berolahraga, dan berinteraksi sosial. Menurutnya, kota nan dirancang dengan pendekatan tersebut bakal berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus produktivitas warga.
Mendagri juga mencontohkan praktik baik nan diterapkan di Singapura, nan sukses mengintegrasikan ruang hijau dan akomodasi publik dalam perencanaan kotanya. Ia menilai, investasi pada taman dan jalur pedestrian terbukti memberikan faedah ekonomi nan signifikan, termasuk dalam menekan beban pembiayaan sektor kesehatan.
Lebih lanjut, Mendagri mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang kota. Ia membujuk pemerintah wilayah (Pemda) untuk tetap mempertahankan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari sistem penyangga lingkungan.
"Jangan sampai semuanya di-convert menjadi wilayah komersial semua. Pemukiman semua. Kalau itu di-convert menjadi pemukiman ... semua, maka nan terjadi nanti, satu, ruang hijaunya untuk bantalannya enggak ada. Tiba-tiba apa? Banjir,” ujarnya.
Menurutnya, konsistensi dalam kebijakan tata ruang menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan kota, sekaligus mencegah beragam persoalan lingkungan seperti banjir dan penurunan kualitas ekosistem.
Sebagai ilustrasi, Mendagri menyinggung pembangunan Bandara Banyuwangi nan mengusung konsep ramah lingkungan dengan memaksimalkan ventilasi alami dan meminimalkan penggunaan pendingin udara.
Ia menilai, komitmen dalam mempertahankan konsep tersebut menunjukkan pentingnya konsistensi kebijakan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Ia menambahkan, keberadaan ruang hijau mempunyai peran krusial tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga sebagai ruang resapan air dan penyangga keseimbangan lingkungan. Tanpa pengelolaan tata ruang nan baik, beragam akibat seperti penyempitan sungai dan potensi banjir dapat meningkat.
Terakhir, Mendagri membujuk kepala wilayah untuk memandang kota sebagai ruang hidup nan mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, bukan semata sebagai pusat aktivitas ekonomi.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·