Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengonfirmasi adanya kenaikan nilai minyak goreng di pasar domestik, mulai dari jenis curah, MinyaKita, hingga minyak goreng premium.
Kenaikan ini dipicu oleh terhambatnya pasokan plastik nan menjadi bahan baku utama bungkusan produk tersebut.
Meski terjadi perubahan harga, Budi memastikan bahwa stok minyak goreng secara nasional tetap dalam kondisi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Nah tadi kami sudah komunikasi dengan para produsen nan pada prinsipnya stok peralatan ada tidak ada masalah. Jadi kesiapan pasokan ada, memang kenaikan nilai minyak goreng salah satu imbasnya lantaran nilai plastik," ujar Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan Jakarta, Selasa (21/4).
Menyikapi persoalan tersebut, Budi menegaskan bahwa pemerintah terus bergerak sigap untuk mengamankan pasokan bahan baku plastik, terutama naphtha.
Ia rutin melakukan koordinasi dengan para pelaku industri plastik guna memastikan proses produksi tetap melangkah meskipun jalur logistik dunia sedang terganggu.
"Ya pada prinsipnya produksi plastik tetap jalan terus dengan impor bahan baku nan terus kita usahakan agar tercukupi. Jadi mudah mudahan semua bisa selesai," tuturnya.
Budi menambahkan bahwa pemerintah telah sukses mengamankan sumber pasokan naphtha baru dari beberapa negara. Pengiriman tersebut saat ini sedang dalam perjalanan dan diharapkan segera tiba di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri bungkusan dalam waktu dekat.
Kenaikan nilai ini sejalan dengan peringatan dari Indonesia Packaging Federation alias IPF. Direktur Eksekutif IPF Henky Wibawa menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz akibat bentrok di Timur Tengah telah memicu lonjakan nilai bahan baku bungkusan hingga mencapai 40 persen.
"Kondisi ini merupakan akibat perang di mana arus pasokan terganggu. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk industri kemasan," ungkap Henky.
Henky berambisi adanya kerjasama dan penemuan antara produsen bungkusan dengan pemilik merek jual beli untuk mencari solusi pengganti di tengah tingginya biaya produksi. Hal ini dinilai krusial agar akibat kenaikan nilai bungkusan tidak semakin membebani daya beli konsumen di sektor pangan.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·