Kita Bisa Berhenti Mewariskan Anemia Defisiensi Besi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Anemia. Foto: angellodeco/Shutterstock

Ada penyakit nan datang lantaran era berubah, ada pula nan justru memperkuat lantaran kita terlalu lama menganggapnya biasa. Anemia defisiensi besi berada pada kategori nan kedua.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kondisi ini sebenarnya sudah dikenal dan apalagi didiagnosis secara primitif oleh orang tua kita sejak era dahulu. Dalam naskah-naskah kuno, muncul istilah seperti ‘anak gadis pucat’, ‘penyakit kurang darah’, hingga ‘lemah pucat’.

Di masa awal kemerdekaan pun, anemia sudah dicatat sebagai penyakit nan ‘diderita banyak orang’. Artinya sederhana, tapi dalam: bahwa ini bukan masalah baru, bukan kejadian modern, melainkan kondisi nan telah hidup berbareng bangsa ini lintas generasi.

Namun, nan sering terlupakan adalah gimana kita memaknai anemia itu sendiri. Selama ini, kondisi anemia defisiensi besi sering dipersepsikan sebagai kondisi ringan, sekadar lemas, pusing, alias wajah pucat. Padahal, pengetahuan pengetahuan hari ini menunjukkan sesuatu nan jauh lebih serius.

Ilustrasi Anemia. Foto: New Africa/Shutterstock

Dalam kitab Anemia, Krisis nan Terabaikan karya Kristin Samah, dijelaskan bahwa anemia defisiensi besi bukan hanya soal kurang darah, melainkan juga soal suatu kondisi medis nan memengaruhi langkah anak berpikir, belajar, dan merespons dunia. Kondisi ini juga berasosiasi dengan penurunan konsentrasi, keahlian memahami pelajaran, hingga akibat performa akademik nan lebih rendah.

Penelitian terkini dari Indonesia Health Development Center (IHDC) pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta apalagi membuktikan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi mempunyai working memory score alias skor memori kerja nan jelek, sehingga tidak bisa berkonsentrasi dengan baik di sekolah. Berbagai studi dunia juga menunjukkan dampaknya bisa menjalar ke kesehatan mental, meningkatkan akibat kelelahan kronis, kecemasan, hingga depresi.

Ketika kondisi ini terjadi di Indonesia dalam skala besar—bahkan menjangkau sekitar satu dari tiga anak balita, remaja putri, dan ibu hamil—yang terdampak bukan hanya individu, melainkan juga tentunya masa depan bangsa ini.

Produktivitas menurun, kapabilitas kerja melemah, apalagi secara makroekonomi, kehilangan akibat anemia bisa mencapai beberapa persen dari produk domestik bruto. Malahan, mungkin nan lebih rawan lagi, bisa terjadi penurunan daya penemuan suatu generasi—sesuatu nan tidak langsung terlihat, tetapi menentukan arah sebuah bangsa.

Ilustrasi generasi muda. Foto: Getty Images

Namun, di kembali gambaran nan tampak berat ini, ada satu perihal nan patut disadari: kita mungkin sedang berada pada momentum terbaik dalam sejarah untuk mengubah keadaan ini. Untuk pertama kalinya, kita mempunyai pemahaman ilmiah nan lebih utuh, kesadaran publik nan semakin meningkat, dan nan terpenting, kesempatan intervensi dalam skala besar nan nyata.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, sering dilihat sebagai kebijakan sosial, sebuah upaya untuk memastikan anak tidak lapar. Namun jika dilihat lebih dalam, potensinya jauh melampaui itu. Program ini bisa menjadi titik kembali bahwa ini tidak lagi sekadar memberi makan, tetapi juga sebuah penemuan untuk memberi gizi, terutama sumber pangan kaya unsur besi—sebagai semangat investasi untuk memupuk keahlian berpikir generasi masa depan.

Teknologi pangan saat ini pun semakin progresif. Anemia defisiensi unsur besi sangat bisa dicegah dengan teknologi fortifikasi, misalnya, salah satunya dengan susu pertumbuhan nan diperkaya dengan unsur besi dan vitamin C, lantaran rupanya pengetahuan gizi juga membuktikan bahwa unsur besi butuh kendaraan vitamin C untuk berikatan dengan oksigen dan digunakan oleh otak dalam proses kognisi.

Tentu saja, potensi ini tidak bakal terwujud jika pendekatannya tetap sama seperti sebelumnya. Jika konsentrasi hanya pada jumlah dan rasa kenyang, kita hanya bakal mengulang pola lama, ialah cukup energi, tetapi miskin kualitas. Namun jika kualitas nutrisi menjadi prioritas, jika unsur besi, vitamin C, protein, dan lemak esensial betul-betul diasup anak-anak kita, dampaknya bisa sangat besar dan terasa dalam waktu nan tidak terlalu lama.

Ilustrasi vitamin C tambahan. Foto: Dok. Shutterstock

Di situasi ini, makna dari anemia defisiensi besi perlu diresapi secara berbeda, bukan sekadar penyakit nan kudu ditangani, melainkan juga sebuah penanda. Penanda bahwa ada sesuatu nan selama ini belum optimal dalam langkah kita membangun manusia. Dan sekaligus, penanda bahwa ada kesempatan besar nan bisa dimanfaatkan jika kita berani melihatnya lebih dalam.

Karena jika sebuah masalah sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dan tetap memperkuat hingga hari ini, menyelesaikannya bukan hanya soal intervensi kesehatan. Ini adalah soal keberanian untuk memutus rantai sejarah nan terlalu lama dibiarkan. Bahkan nan lebih mendasar adalah bahwa ini merupakan pilihan untuk tidak lagi mewariskan kondisi nan sama kepada generasi berikutnya.

Generasi sebelum kita telah mencatat bahwa anemia adalah penyakit nan banyak diderita. Generasi hari ini mempunyai kesempatan nan berbeda: tidak hanya mencatat, tetapi juga menyelesaikan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita mempunyai semua nan dibutuhkan untuk melakukannya, ialah pengetahuan, kesadaran, dan sarana.

Jika momentum ini betul-betul dimanfaatkan, suatu hari nanti, istilah “kurang darah” tidak lagi menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Bukan lantaran kita melupakan istilah itu, melainkan lantaran kita sukses membuatnya tidak lagi relevan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan