Jakarta, CNBC Indonesia — Seorang mantan awak kabin asal Kanada diduga memperoleh ratusan penerbangan cuma-cuma dari maskapai Amerika Serikat (AS) dengan menyamar sebagai pilot komersial, berasas keterangan pihak berwenang.
Dallas Pokornik (33), penduduk Toronto, ditangkap di Panama setelah didakwa atas kasus penipuan melalui transfer elektronik di pengadilan federal Hawaii pada Oktober 2025. Pada Selasa (20/1/2026), dia menyatakan tidak bersalah setelah menjalani proses ekstradisi.
Menurut arsip pengadilan, Pokornik bekerja sebagai pramugara untuk maskapai berbasis Toronto dari 2017 hingga 2019. Setelah itu, dia menggunakan identitas tenaga kerja tiruan untuk memesan tiket pilot dan pramugara di tiga maskapai AS lainnya selama empat tahun.
Jaksa AS mengatakan Pokornik apalagi meminta duduk di bangku tambahan di kokpit, nan biasanya diperuntukkan bagi pilot nan sedang tidak bertugas.
"Skema ini tidak hanya menipu maskapai, tetapi juga menimbulkan akibat keselamatan penerbangan," ujar jaksa, seperti dikutip Associated Press, Minggu (19/4/2026).
Dengan rata-rata tiket penerbangan domestik AS sekitar US$ 300 (sekitar Rp5 juta), Pokornik diperkirakan telah menikmati penerbangan senilai puluhan hingga ratusan juta rupiah tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Sementara itu, dakwaan tidak merinci maskapai nan terlibat, hanya menyebut mereka berbasis di Honolulu, Chicago, dan Fort Worth, Texas. Maskapai terkait, termasuk Hawaiian Airlines, United Airlines, dan American Airlines, belum memberikan komentar. Air Canada, maskapai tempat Pokornik sebelumnya bekerja, juga belum merespons permintaan komentar.
Seorang pengadil magistrat AS memerintahkan Pokornik tetap ditahan, sementara tim pembelanya menolak berkomentar.
Kasus ini mengingatkan publik pada movie Catch Me If You Can, tentang sosok Frank Abagnale nan menyamar sebagai pilot untuk mendapatkan penerbangan gratis.
(mkh/mkh)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·