Kisah RA Kartini yang Wafat karena Preeklamsia Usai Melahirkan Anak Pertama

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi R.A. Kartini. Foto: Shutter Stock

Moms, setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini sebagai momen refleksi perjuangan wanita Indonesia. Sosok RA Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita, namun tak banyak nan tahu bahwa dia meninggal bumi akibat komplikasi kehamilan yang serius.

Diketahui RA Kartini wafat di usia 25 tahun, tepatnya empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat. Meski dugaan mengarah pada pembunuhan, tapi di kalangan master disebutkan bahwa Kartini mengalami preeklamsia. Pada era dulu, perkembangan bumi medis belum semaju saat ini, penanganan preeklamsia juga tetap belum maksimal.

Kisah Kartini dan Preeklamsia

Ilustrasi RA Kartini. Foto: Ledi Senja/Shutterstock

Dikutip dari laman IDI Online, menjelang persalinan, Kartini sudah merasakan kontraksi sejak malam hari. Namun, proses persalinan melangkah cukup lama hingga akhirnya master menggunakan perangkat bantu untuk membantu kelahiran bayinya. Bayi lahir dengan selamat serta ibu kembali sehat.

Namun kondisi kesehatannya menurun setelah persalinan, dengan indikasi seperti tekanan darah tinggi, kejang, dan perut kencang. Bahkan 30 menit sebelum kematiannya, Kartini merasakan nyeri dahsyat di bagian perut.

Meski sempat muncul dugaan lain mengenai penyebab kematiannya, penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa indikasi nan dialami Kartini mengarah pada preeklamsia.

Apa Itu Preeklampsia?

Dikutip dari Healthline, preeklamsia adalah komplikasi kehamilan nan umumnya muncul setelah usia kandungan 20 minggu. Kondisi ini ditandai dengan tekanan hipertensi dan adanya protein dalam urine, nan bisa menjadi tanda gangguan pada organ seperti ginjal.

Gejala lain nan perlu diwaspadai meliputi sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri di bagian atas perut, sesak napas, hingga pembengkakan mendadak di wajah dan tangan. Kenaikan berat badan secara drastis juga bisa menjadi tanda, Moms.

Faktor Risiko Preeklamsia

Beberapa kondisi nan dapat meningkatkan akibat preeklamsia, antara lain:

  1. Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

  2. Kehamilan kembar

  3. Tekanan hipertensi kronis

  4. Diabetes jenis 1 alias jenis 2

  5. Penyakit ginjal

  6. Gangguan autoimun

  7. Kehamilan melalui program bayi tabung (IVF)

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan