Liputan6.com, Jakarta - Di perspektif terpencil Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tepatnya di SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, seorang guru muda tengah menjadi buah bibir. Najib Nadir namanya. Bukan lantaran kemewahan nan dia pamerkan, melainkan lewat rekaman-rekaman sederhana di media sosial nan memotret realitas wajah pendidikan di beranda depan Indonesia.
Kepada tim Liputan6.com, Selasa 14 April 2026, Najib mengaku tak pernah merancang kontennya sebagai sebuah skenario. Baginya, kamera ponsel hanyalah saksi bisu atas apa nan dia alami setiap hari.
“Perihal konten-kontennya, sebenarnya tidak ada konten nan betul-betul diniatkan untuk dibuat. Jadi sesampainya di sekolah, jika misal ada momen-momen nan menarik, ya saya capture dengan HP nan saya gunakan. Seperti video terakhir pada saat banjir, itu spontan saja,” tutur Najib dengan nada bicara nan rendah namun penuh semangat.
Jauh sebelum dia mengenakan seragam abdi negara, Najib adalah mahasiswa berprestasi di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar. Kuliahnya mulus berkah danasiwa fully funded dari pemerintah. Namun, alih-alih mencari area nyaman di kota besar setelah lulus, hatinya justru tertambat pada wilayah pelosok.
“Awal mula jadi guru, ya memang lantaran di saat pemilihan bidang itu saya aktif mengikuti beragam aktivitas volunteer,” kenangnya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·