Ketika Alam Dibalas dengan Pemusnahan: Refleksi dari Fenomena Ikan Sapu-Sapu

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Fenomena Tragedi Ikan Sapu-sapu di Indonesia

Fenomena pembasmian ikan sapu-sapu nan belakangan viral di beragam wilayah menjadi sorotan publik. Ikan ini dianggap merusak ekosistem lantaran berkembang pesat dan menakut-nakuti keberadaan ikan lokal. Banyak pihak kemudian mengambil langkah sigap dengan menangkap dan memusnahkannya. Secara praktis, tindakan ini terlihat masuk akal. Namun, di kembali itu, ada pertanyaan nan patut diajukan: apakah semua masalah lingkungan kudu selalu diselesaikan dengan langkah pemusnahan?

Semua Makhluk Ingin Hidup

Dalam perspektif makulat Timur, setiap makhluk hidup mempunyai dorongan nan sama, ialah mau hidup dan terhindar dari penderitaan. Ajaran Siddhartha Gautama menekankan pentingnya belas kasih kepada semua makhluk, bukan hanya kepada manusia. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Laozi nan memandang alam sebagai suatu harmoni nan kudu dijaga, bukan dilawan. Dalam konteks ini, ikan sapu-sapu bukanlah makhluk nan “jahat”. Ia hanya hidup sesuai hatikecil alaminya.

Di sisi lain, makulat Barat juga mengenal pendapat serupa. Albert Schweitzer, misalnya, memperkenalkan konsep *reverence for life*, ialah penghormatan terhadap semua corak kehidupan. Artinya, kehidupan tidak semestinya dinilai hanya dari manfaatnya bagi manusia. Cara pandang ini membujuk kita untuk memandang ikan sapu-sapu bukan sekadar sebagai hama, tetapi sebagai bagian dari ekosistem nan lebih luas.

Masalahnya Bukan Sekadar Ikan

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ikan sapu-sapu tidak muncul begitu saja. Kehadirannya dalam jumlah besar merupakan akibat dari beragam faktor, seperti pencemaran sungai, rusaknya ekosistem, dan masuknya jenis asing akibat aktivitas manusia. Dalam makulat Timur, perihal ini dapat dipahami melalui konsep sebab-akibat: setiap kondisi nan terjadi adalah hasil dari tindakan sebelumnya.

Filsuf Barat seperti Aristotle juga menekankan pentingnya memahami penyebab sebelum mengambil tindakan. Tanpa memahami akar masalah, solusi nan diambil hanya berkarakter sementara. Pembasmian ikan sapu-sapu mungkin mengurangi jumlahnya, tetapi tidak menyelesaikan persoalan utama. Selama lingkungan tetap rusak, masalah nan sama berpotensi muncul kembali.

Perlu Pendekatan nan Lebih Bijak

Filsafat mengajarkan bahwa tindakan manusia semestinya tidak hanya efektif, tetapi juga etis. Confucius berbincang tentang pentingnya bertindak dengan kebijaksanaan, sementara Immanuel Kant menekankan bahwa tindakan kudu didasarkan pada prinsip moral. Dalam konteks ini, pembasmian tanpa refleksi dapat menjadi tindakan nan terlalu reaktif.

Pendekatan nan lebih bijak adalah mengelola, bukan sekadar menghilangkan. Ikan sapu-sapu bisa dimanfaatkan untuk beragam keperluan, sementara upaya perbaikan ekosistem perlu dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, masyarakat juga dapat berkedudukan dengan menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang sampah sembarangan.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa masalah lingkungan tidak bisa diselesaikan secara instan. Diperlukan langkah pandang nan lebih luas dan tindakan nan lebih bijaksana. Bukan hanya soal mengatasi masalah hari ini, tetapi juga menjaga keseimbangan untuk masa depan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan