Zat besi bukan hanya krusial untuk mencegah anemia, tetapi juga berkedudukan besar dalam perkembangan otak anak. Ketika anak kekurangan unsur besi, beragam proses krusial dalam otak tidak melangkah optimal, sehingga dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya secara keseluruhan.
Menurut Dokter Spesialis Anak nan juga Konselor Laktasi, dr. Lucky Yogasatria Sp.A, saat persediaan unsur besi dalam tubuh anak menurun, pembentukan mielin (pelindung saraf) dan neurotransmitter ikut terganggu. Hal ini membikin perkembangan otak anak tidak seoptimal anak dengan kadar unsur besi nan cukup.
Kebutuhan Tinggi, Asupan Sering Tidak Tercukupi
Pada bayi usia 0–4 bulan, kebutuhan unsur besi tetap tercukupi dari persediaan sejak lahir. Namun, memasuki usia 6 bulan, kebutuhan meningkat menjadi sekitar 11 miligram per hari. Jumlah ini tergolong tinggi dan susah dipenuhi hanya dari makanan biasa.
“Kayaknya gede, ya. Itu perlu sekitar 500 gram daging ayam. Bagaimana bisa anak usia 6 bulan makan separuh kilo daging ayam,” kataya dalam aktivitas peluncuran kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas di Jakarta Selatan, Selasa (14/4).
Memang ada sumber unsur besi nan lebih padat, seperti hati ayam, di mana sekitar 70 gram sudah cukup membantu memenuhi kebutuhan harian. Namun, kenyataannya tidak semua anak rutin mengonsumsinya.
Oleh lantaran itu, suplementasi unsur besi sering direkomendasikan sebagai solusi. Hal ini penting, karena tetap banyak anak nan belum mendapatkan asupan unsur besi nan cukup dari makanan sehari-hari. Bahkan, sekitar 80 persen anak di Indonesia diketahui belum memenuhi kebutuhan unsur besinya.
“Tapi pertanyaan saya, seberapa sering anak nan makan hati ayam? Oleh lantaran itu, maka kita berikan suplementasi. Segitu pentingnya diberikan suplementasi, lantaran banyak banget nan kekurangan unsur besi,” pungkas dr. Lucky.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·