Sebagian besar orang percaya bahwa masalah keamanan Afrika terdiri dari bentrok bersenjata, terorisme, dan instabilitas politik. Melihatnya hanya sebagai masalah militer, bagaimanapun, adalah penyederhanaan nan berbahaya. Krisis keamanan Afrika sebenarnya berkarakter struktural, disebabkan oleh negara nan lemah, ketimpangan ekonomi, dan kegagalan tata kelola nan tidak berhenti.
Contoh paling jelas adalah wilayah Sahel. Sekarang, wilayah nan membentang dari Mali hingga Chad adalah pusat kekerasan ekstremis. Dengan memanfaatkan lemahnya kontrol negara dan kondisi sosial-ekonomi nan tidak stabil, golongan bersenjata dapat memperluas kekuasaan mereka. Banyak kali, negara tidak betul-betul "hadir" di wilayah terpencil, sehingga golongan non-negara mengisi ruang.
Selama bertahun-tahun, tindakan militer telah menjadi pilihan utama untuk menanggapi ancaman ini. Intervensi dari negara lain, operasi anti-terorisme, dan pengerahan militer regional dilakukan secara intensif. Meskipun demikian, hasilnya tetap jauh dari cukup. Kekerasan justru menyebar ke negara-negara baru, seperti negara-negara pesisir Afrika Barat. Hal ini menunjukkan bahwa senjata api bukanlah satu-satunya langkah untuk mencapai keamanan.
Sebaliknya, persaingan dunia semakin memengaruhi keamanan Afrika. Berbagai corak kerja sama militer di Afrika dilakukan oleh Amerika Serikat, Prancis, dan Rusia. Mereka sering dianggap sebagai upaya untuk stabilisasi, tetapi mereka juga mempunyai kepentingan geopolitik. Dalam beberapa situasi, keterlibatan dari sumber luar justru menyebabkan bentrok menjadi lebih susah dan menghasilkan ketergantungan baru.
Selain itu, ancaman keamanan Afrika tidak lagi berjuntai pada bentrok bersenjata. Instabilitas mulai meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim. Migrasi dan bentrok antar organisasi disebabkan oleh krisis air, kerusakan lahan, dan kandas panen. Perebutan sumber daya di wilayah seperti Danau Chad meningkatkan bentrok sosial. Ini menunjukkan bahwa keamanan Afrika semakin kompleks.
Selain itu, pertumbuhan kota nan sigap tanpa persiapan nan memadai menimbulkan masalah baru. Meskipun pertumbuhannya nan pesat, kota-kota besar tidak selalu mempunyai lapangan kerja dan jasa publik nan memadai. Ketidakpuasan sosial dan kejahatan dapat muncul sebagai akibat dari keadaan ini, nan pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas politik.
Sebenarnya, Uni Afrika melakukan banyak perihal untuk memastikan keamanan wilayah tersebut, terutama melalui misi perdamaian dan sistem penyelesaian konflik. Pendanaan dan koordinasi sering menjadi penghalang utama. Akibatnya, banyak inisiatif keamanan berjuntai pada support eksternal, nan membikin situasi menjadi lebih rumit.
Di tengah kekacauan ini, strategi keamanan Afrika kudu diredefinisi. Keamanan bukan hanya tidak ada konflik, terdapat keadilan sosial, pembangunan ekonomi, dan tata kelola nan adil. Tanpa itu, setiap kesuksesan militer bakal menjadi sementara.
Saat ini, Afrika berada di tengah-tengah lingkaran krisis nan susah diputuskan. Tetapi itu tidak berfaedah tidak ada jalan keluar. Untuk mencapai solusi nan sukses dalam jangka panjang, diperlukan keberanian untuk mengubah pendekatan dari militeristik ke struktural dan dari reaktif ke preventif.
Jika tidak, keamanan Afrika bakal terus menjadi upaya nan tidak pernah selesai, siklus nan tidak pernah berhujung di mana bentrok ditekan, tetapi tidak pernah betul-betul menyelesaikannya.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·