'Istri Saya Baik Banget': Pedih Hati Radit di Balik Tragedi KRL Bekasi Timur

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Keluarga almarhum Harum Anjarsari di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Rayyan/kumparan

Di hadapan gundukan tanah di makam nan tetap basah, Radit (36) berdiri dengan tatapan kosong namun berupaya tetap tegar. Ia baru saja melepas Harum Anjarsari (30), istrinya, ke tempat peristirahatan terakhir.

Harum adalah salah satu dari 16 korban jiwa dalam tragedi KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam lalu.

Seharusnya, minggu ini menjadi momen senang bagi family mini mereka. Radit sudah mengambil libur kerja. Ia berencana memboyong istri dan anak-anaknya jalan-jalan sebelum dia pindah tugas (mutasi) ke Tasikmalaya pada 1 Mei mendatang.

"Kemarin tuh semestinya kita sudah mulai mau jalan-jalan," kenang Radit dengan bunyi parau usai pemakaman istrinya, di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4).

Namun, takdir punya rencana lain. Senin pagi itu, Harum pamit berangkat kerja. Meski sudah masuk masa cuti, dia merasa tak lezat hati jika melewatkan aktivitas legal bihalal di kantornya. Harum dikenal sebagai sosok nan gigih, seorang leader di sebuah perusahaan skincare.

"Dia keras kepala, tapi positif. Enggak pernah mau berakhir kerja. Saya sempat merasa bersalah, kenapa dia kudu kerja sekeras ini," ujar Radit.

“Istri nan baik, baik banget. Baik banget, istri nan baik,” tambahnya.

Kabar Terakhir: 'Sayang, Keretanya Nabrak Mobil'

Suasana pemakaman Harum Anjarsari di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Rayyan/kumparan

Malam itu, komunikasi antara suami-istri ini tetap mengalir hangat. Seperti biasa, Radit nan sedang berada di rumah di Tambun, Kabupaten Bekasi, bersiap menjemput Harum berbareng anak bungsu mereka nan tetap berumur 3 tahun.

Pukul 20.55 WIB, sebuah pesan singkat masuk. Harum mengabarkan posisinya sudah sampai di Stasiun Bekasi Timur. Namun, pesan berikutnya membawa firasat buruk.

"Sayang, ini keretanya nabrak ini... nabrak mobil," kata Harum saat itu.

Radit nan sudah terbiasa dengan ritme perjalanan KRL mencoba menenangkan. Ia meminta Harum turun saja dan melanjutkan perjalanan dengan ojek online jika pemindahan menyantap waktu lama. Namun Harum memilih menunggu di dalam kereta. Itulah kontak terakhir nan diterima Radit.

Setelah 40 menit tanpa kabar, Radit mulai gelisah. Ia menidurkan anaknya ke rumah, lampau memacu motornya ke Stasiun Bekasi Timur, namun nan dia temukan hanyalah kekacauan.

Petugas menggunakan perangkat berat mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai berbenturan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Ia berbareng dua temannya menyisir rumah sakit di Bekasi. Di RSUD Bekasi nihil.

Ia sempat mencoba menghubungi nomor telepon Harum. Ponselnya aktif. Namun, bunyi di ujung telepon bukan bunyi lembut sang istri, melainkan bunyi berat petugas Damkar.

"Saya berdoanya ya handphone-nya aja nan di situ, jadi orangnya istri saya tuh udah di rumah sakit,” ucapnya.

Hingga pukul 09.00 pagi keesokan harinya, Radit tetap menunggu di tempat pemindahan Stasiun Bekasi Timur. Pencarian berhujung pilu di RS Polri Kramat Jati. Melalui proses forensik dan pencocokan DNA ayah mertuanya, identitas jenazah itu terkonfirmasi: itu adalah Harum.

Meski hatinya hancur, Radit memilih untuk tidak mengutuk keadaan. Perihal taksi Green SM nan mogok di rel dan menjadi penyebab kecelakaan, dia memandangnya dengan kedewasaan nan getir.

"Manusiawi jika marah. Tapi jika menyalahkan kejadian, buat saya enggak dewasa. Apapun sudah digariskan Tuhan. Nikah, punya anak, sampai meninggal pun sudah ditulis," tuturnya.

Satu perihal nan paling memberatkan batinnya bukanlah kemarahan kepada penyebab kecelakaan, melainkan rasa bersalah kepada mertuanya.

"Kan pasti ya jika nikahin anak orang tuh apalagi seorang laki-laki selalu nitipin anaknya, nah saya ngerasa bersalah aja nggak bisa jaga anaknya, nggak bisa jaga istri saya,” ujarnya.

Kini, Radit kudu membesarkan dua jagoannya nan tetap berumur 7 dan 3 tahun tanpa sosok ibu nan sangat baik itu. Harum pergi meninggalkan kenangan tentang seorang wanita pekerja keras nan selalu mengutamakan family di atas segalanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan