Kevin Kelly menghadapi tekanan berat setelah lonjakan nilai bahan baku sejak Amerika Serikat bertempur dengan Iran. Kenaikan tersebut membikin produsen kantong plastik asal California itu terancam melanggar perjanjian dengan pengguna ritel. REUTERS/Carlos Barria

Ia menyebut kenaikan nilai kali ini sebagai nan paling ekstrem sepanjang kariernya. Harga melonjak tajam hingga 30 sen dalam sebulan, jauh melampaui akibat krisis sebelumnya seperti angin besar Katrina. REUTERS/Carlos Barria

Perang nan memasuki pekan keenam telah mengganggu nyaris seperlima pasokan minyak dunia. Pembatasan Iran di Selat Hormuz memperluas akibat dari pasar finansial ke aktivitas upaya global. REUTERS/Carlos Barria

Biaya resin plastik naik drastis dari 45 sen menjadi 85 sen per pon hanya dalam hitungan pekan. Kondisi ini memaksa perusahaannya mempertimbangkan deklarasi force majeure untuk perjanjian nan tak lagi menguntungkan. REUTERS/Carlos Barria

Kelly mengakui akibat kehilangan pengguna jika nilai dinaikkan. Namun, dia menilai tetap menjalankan perjanjian lama justru bakal merugikan bisnisnya secara fatal. REUTERS/Carlos Barria

Dampak krisis daya juga dirasakan di beragam negara, dari pembatasan solar di Thailand hingga penutupan pabrik aluminium di India. Petani di Inggris pun mulai menghemat stok pupuk akibat lonjakan biaya. REUTERS/Carlos Barria

Analis menilai negara Asia dan Eropa lebih rentan terhadap guncangan ini dibanding AS. Meski begitu, akibat perlambatan ekonomi dunia hingga resesi mulai meningkat, dengan Goldman Sachs memperkirakan kesempatan resesi AS mencapai 30%. REUTERS/Carlos Barria

Jika bentrok berlanjut, nilai minyak diperkirakan bisa menembus 100 hingga 190 dolar per barel, apalagi mencapai 200 dolar. Kenaikan nilai daya juga mulai membebani konsumen, dengan nilai bensin di AS melonjak sekitar 30% dan berpotensi menekan shopping rumah tangga. REUTERS/Carlos Barria
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·