APA GUNANYA SEKOLAH?
Coba tanyakan pada diri sendiri, untuk apa Anda sekolah?
Bukan jawaban umum seperti "mencerdaskan kehidupan bangsa" alias "mempersiapkan masa depan". Tapi jawaban nan jujur, jawaban nan lahir dari dalam diri sendiri, dari hati, dari realita nan Anda lihat setiap hari.
Apakah Anda sekolah agar dapat pekerjaan? Supaya orang tua bangga? Supaya tidak kalah sama kawan alias tetangga? Supaya bisa kuliah di universitas ternama? Supaya kelak dapat penghasilan besar?
Jawaban-jawaban itu tidak salah, tetapi saya mau bertanya lebih dalam. Setelah semua itu, setelah mendapatkan pekerjaan, setelah orang tua bangga, setelah penghasilan besar, apakah Anda merasa merdeka?
Atau justru merasa seperti hamster nan terus berlari di roda putaran. Sekolah demi nilai, nilai demi ijazah, piagam demi kerja, kerja demi uang, duit demi beli barang, beli peralatan demi gaya, style demi pamer, pamer demi diakui. Terus berputar tanpa pernah bertanya, ini hidupku alias hidup nan dikarang orang lain?
Paulo Freire, pembimbing dari Brasil, mempunyai jawaban berbeda tentang "untuk apa sekolah". Bagi Freire, sekolah bukan tempat menyiapkan diri untuk pasar kerja. Sekolah adalah tempat belajar menjadi manusia nan utuh. Menjadi manusia nan berani mengubah realitas nan tidak adil, bukan hanya beradaptasi dengan ketidak adilan itu. Tapi apakah jawaban Freire ini tetap relevan untuk hari ini? Mari kita telusuri bersama.
Sekolah untuk Dapat Pekerjaan
Ini jawaban paling umum nan sering kita dapatkan, jawaban paling pragmatis dan paling "masuk akal". Tapi coba perhatikan kembali, setiap tahunnya pengangguran terdidik di Indonesia terus meningkat. Selain itu banyak lulusan S1 nan bekerja di posisi nan tidak memerlukan gelar. Bahkan ada nan jadi ojek online alias jualan online pekerjaan nan sebenarnya tidak butuh ijazah. Bukankah ironis? Belasan tahun di sekolah, menghabiskan jutaan rupiah, untuk akhirnya melakukan pekerjaan nan bisa dipelajari dalam hitungan minggu. Kenyataannya adalah sekolah tidak pernah menjanjikan pekerjaan, sekolah hanya menjanjikan ijazah. Di era sekarang, piagam bukan lagi tiket otomatis masuk ke bumi kerja.
Sekolah untuk Jadi Pintar
Jawaban ini terdengar mulia, tapi mari kita bedah bahwa pandai ini jenis siapa? Pintar jenis sekolah adalah bisa menjawab soal ujian dengan benar. Bukan "bisa", tapi "hafal". Pintar jenis sekolah adalah ranking satu di kelas, nilai seratus dan menjuarai olimpiade.
Tapi coba lihat orang-orang nan paling sukses di dunia. Bill Gates drop out dari kuliah, Steve Jobs juga drop out, apalagi Mark Zuckerberg juga drop out. Apakah mereka bodoh? Atau justru sekolah tidak bisa mengukur jenis "kecerdasan" nan sesungguhnya membebaskan manusia?
Kenyataannya sekolah sering mengukur hanya satu jenis kepintaran (hafalan dan logika matematis), sementara kepintaran lain seperti kreativitas, empati, kepintaran sosial, kepintaran spiritual, tidak pernah dinilai. Akibatnya, orang nan "pintar" di sekolah belum tentu "pintar" menjalani hidup.
Sekolah untuk Sukses
Jawaban nan paling menggoda, jawaban ini sangat menjual dan sering dipakai motivator. Tapi mari definisikan "sukses". Jika sukses disini artinya punya rumah mewah, mobil mahal, dan liburan ke luar negeri apakah semua orang sukses itu bahagia? Apakah semua orang sukses itu merasa merdeka?
Kita lihat kejadian "burnt out" di kalangan ahli muda. Lulusan terbaik, bekerja di perusahaan ternama, penghasilan besar, tapi stres, depresi, kehilangan makna hidup. Mereka mencapai "sukses" jenis orang lain, tapi tidak pernah bertanya apakah ini nan saya mau, alias nan orang tua/masyarakat/media sosial mau?
Kenyataannya "Sukses" adalah konsep nan dijual kepada kita. Sekolah, media, dan masyarakat membentuk arti sukses nan sempit (kaya, terkenal, berkuasa). Namun arti itu tidak pernah mempertanyakan, apakah sukses nan seperti itu membuatmu lebih manusiawi alias justru semakin buas?
Sekolah untuk Menjadi Manusia nan Merdeka
Paulo Freire memberikan jawaban nan berbeda, Jawaban nan tidak populer, apalagi jawaban nan tidak bisa dijual di seminar motivasi dan tidak bakal muncul di iklan pengarahan belajar.
"Sekolah bukan untuk mempersiapkan siswa beradaptasi dengan bumi nan tidak adil. Sekolah adalah untuk mempersiapkan siswa berani mengubah ketidakadilan itu."
Mari bedah satu per satu:
Freire terkenal dengan kalimatnya: "Membaca bukan hanya mengucapkan kata-kata. Membaca adalah memahami bumi di kembali kata-kata itu".
Apa maksudnya?
Seorang anak bisa membaca kata "banjir" di buku. Tetapi apakah dia mengerti kenapa kampungnya kebanjiran setiap tahun? Apakah dia mengerti hubungan antara banjir, sampah, penggundulan hutan, dan kebijakan pemerintah?
Jika dia hanya bisa membaca kata tapi tidak bisa membaca realitas, maka dia melek huruf tapi buta dunia. Sekolah ala Freire mengajarkan siswa untuk tidak hanya membaca teks, tapi juga membaca realita. Ini nan disebut literasi kritis, keahlian untuk memandang realitas tidak sebagai "takdir", tapi sebagai hasil dari keputusan manusia nan bisa diubah.
Freire menyebut pendidikan saat ini sebagai pendidikan style bank, dimana pendidikan ini mengajarkan siswa untuk menjawab pertanyaan "Apa". Apa rumusnya? Apa penyebabnya? Apa tanggalnya? Apa definisinya?
Freire tidak puas bakal perihal tersebut, dia mau mengajarkan siswa untuk bertanya "Mengapa".
Mengapa rumus itu seperti itu?
Mengapa penyebabnya itu, bukan nan lain?
Mengapa kita kudu menghafal tanggal itu?
Mengapa arti itu dianggap benar?
Pertanyaan "mengapa" adalah kunci pembebasan. Karena dengan "mengapa" dapat membuka ruang untuk meragukan, mencurigai, dan mencari alternatif. Seorang siswa nan hanya bisa menjawab "apa" adalah mesin rekam nan bisa berjalan. Namun seorang siswa nan berani bertanya "mengapa" adalah calon pemberontak terhadap ketidakadilan.
Sekolah kita, sejak taman kanak-kanak mengajarkan satu hal, mengajarkan untuk menjadi manusia patuh. Duduk rapi, antre, jangan bicara sebelum dipanggil, jangan bertanya terlalu banyak, jangan membantah pembimbing dan hormat pada nan lebih tua. Patuh itu penting, tapi alim secara buta adalah racun. Freire mengajarkan bahwa pendidikan nan membebaskan adalah pendidikan nan melatih ketidakpatuhan nan cerdas. Dimana keberanian untuk tidak setuju ketika ketidaksetujuan itu didasari oleh logika dan hati nurani.
Lalu untuk apa sekolah?
Setelah perjalanan panjang dari kritik terhadap jawaban-jawaban di atas, hingga pendapat Freire tentang pembebasan, mari saya coba merangkum jawaban untuk pertanyaan “untuk apa sekolah?”. Bukan jawaban nan bakal Anda temukan di kitab teks. Bukan jawaban nan bakal diucapkan motivator. Tetapi jawaban nan saya yakini benar, berasas apa nan kita pelajari dari Freire dan realitas Indonesia.
Saya sekolah untuk:
1. Belajar menggunakan nalar, bukan sekadar menerima omongan
Di era hoaks dan propaganda seperti sekarang, keahlian membedakan kebenaran dan ketidakejujuran adalah senjata hidup dan mati. Sekolah nan baik melatih otot nalar, dimana kita meragukan sebelum percaya, mengecek sebelum menyebar, berpikir sebelum bicara.
2. Belajar berdebat dengan sopan, bukan saling serang
Lihatlah kolom komentar medsos kita. Jarang ada debat sehat, nan ada hanyalah hujat, ejek, dan klaim paling benar. Sekolah semestinya menjadi tempat latihan berdemokrasi, berbeda pendapat itu wajar, nan tidak wajar adalah tidak mau mendengar pendapat orang lain alias membenci orang lain lantaran berbeda pendapat.
3. Belajar bahwa bumi bisa diubah, bukan hanya ditonton
Banyak dari kita merasa bahwa bumi ini sudah ada begitu saja. Bahwa kemiskinan, polusi, dan ketidakadilan adalah "takdir". Salah, bumi saat ini adalah hasil dari keputusan manusia di masa lalu. Dan bumi di masa depan bakal ditentukan oleh keputusan kita hari ini. Sekolah kudu mengajarkan keberanian untuk menjadi bagian dari perubahan itu.
4. Belajar bahwa Anda berharga, bukan lantaran nilaimu, tapi lantaran kamulah kamu
Sistem nilai dan ranking telah membikin kita lupa bahwa manusia tidak bisa diukur dengan angka. Kamu bukanlah rata-rata nilai matematikamu. Kamu bukanlah ranking kelasmu. Kamu adalah kumpulan mimpi, ketakutan, keunikan, dan potensi nan tidak bisa dirangkum dalam rapor. Sekolah nan baik adalah sekolah nan membuatmu sadar bakal perihal itu.
Refleksi Akhir
Plato mendirikan Akademia untuk mencetak raja filsuf, pemimpin nan cinta kebenaran. Freire mengajar di Brasil untuk membebaskan kaum tertindas dari kegoblokan nan disengaja. Kita, di Indonesia hari ini, tidak kudu memilih salah satu. Kita bisa mengambil semangat Plato, bahwa pendidikan adalah proses keluar dari kegelapan menuju terang. Kita bisa mengambil semangat Freire, bahwa pendidikan adalah perangkat untuk mengubah realitas nan tidak adil.
Tapi nan paling penting, kita kudu berani menjawab pertanyaan "untuk apa sekolah?" dengan jawaban kita sendiri. Bukan jawaban orang tua. Bukan jawaban guru. Bukan jawaban masyarakat. Bukan jawaban media sosial. Tapi jawaban nan lahir dari perenungan paling jujur tentang “Aku mau menjadi manusia seperti apa ?”
Jika jawabanmu adalah "Aku mau menjadi manusia nan tidak mudah dibodohi, nan berani melawan ketidakadilan, dan nan tidak kehilangan rasa mau tahu sampai kapan pun" maka selamat. Kamu sudah memahami tujuan sejati sekolah.
Dan berita baiknya sekolah untuk tujuan itu tidak pernah usai. Ini bakal bersambung seumur hidup, di mana pun, dan kapan pun. Jadi, Anda sekarang bisa menjawab untuk apa sekolah?
Untuk mempersiapkanmu menjalani hidup, bukan sekadar mencari nafkah.
Untuk membuatmu bertanya, bukan sekadar menjawab.
Untuk membebaskanmu, bukan sekadar menjinakkan.
Pendidikan tidak merubah dunia. Pendidikan mengubah orang. Dan orang-orang nan mengubah dunia. - Paulo Freire -
Sekarang, lanjutkan sekolahmu. Tapi kali ini, dengan pertanyaan nan berbeda: "Untuk apa saya belajar hari ini?" Bukan hanya untuk nilai, bukan hanya untuk ijazah. Namun untuk menjadi lebih merdeka dari kemarin.
Selamat merdeka.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·