Healing secara sederhana adalah proses memulihkan diri baik secara mental, emosional, maupun bentuk setelah mengalami tekanan, stres, alias kelelahan. Healing bisa berupa istirahat, melakukan hobi, menjauh sejenak dari rutinitas, alias sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas. Intinya healing itu bermaksud untuk mengembalikan daya agar kita bisa kembali menjalani hidup dengan lebih baik.
Sebaliknya, kabur dari tanggung jawab adalah ketika seseorang secara sengaja alias tidak, menghindari tanggungjawab nan semestinya dihadapi. Kabur sering kali dibungkus dengan argumen nan terlihat “valid”, padahal sebenarnya hanya corak penundaan alias pelarian dari tekanan. Masalahnya, pemisah antara healing dan kabur itu sangat tipis. Keduanya bisa terlihat sama dari luar misalnya sama-sama istirahat, sama-sama menjauh dari tugas tapi niat dan dampaknya berbeda.
Ketika Healing Jadi Alasan
Banyak dari kita nan sebenarnya tetap kesulitan mengatur waktu dan prioritas. Di satu sisi, kita sadar bahwa kita butuh istirahat. Tapi di sisi lain, kita juga punya tanggung jawab nan tidak bisa ditunda terus-menerus.
Di sinilah bentrok itu muncul. Kita mulai menggunakan healing sebagai argumen untuk menunda pekerjaan, menghindari tekanan, alias apalagi lari dari konsekuensi. Misalnya, tugas belum selesai tapi kita memilih “healing” dengan scroll media sosial berjam-jam, nongkrong tanpa batas, alias tidur berlebihan. Awalnya terasa seperti self-reward, tapi lama-lama justru menambah beban lantaran tugas menumpuk.
Tanpa disadari, kita bukan lagi memulihkan diri, tapi memperpanjang masalah.
Sulitnya Mengatur Waktu Healing
Mengatur waktu healing itu tidak semudah nan dibayangkan. Banyak orang belum punya pemisah nan jelas: kapan kudu berakhir dan kembali ke tanggung jawab. Healing nan semestinya jadi jeda, berubah jadi pelarian nan berkepanjangan. Akhirnya, healing bukan lagi perangkat untuk memperbaiki diri, tapi jadi langkah untuk menghindari realita. Ironisnya, semakin lama kita “kabur”, semakin berat juga beban nan menunggu saat kita kembali.
Healing bukanlah sesuatu nan salah justru itu krusial dan perlu. Tapi healing nan sehat semestinya membantu kita kembali lebih kuat, bukan menjauh lebih lama. Ketika healing mulai membikin kita menghindari tanggung jawab, menunda kewajiban, alias kehilangan arah, mungkin itu bukan lagi healing, melainkan corak pelarian nan dibungkus dengan istilah nan terdengar lebih nyaman.
Kuncinya bukan berakhir healing, tapi belajar mengatur batas. Memberi diri waktu untuk istirahat, tanpa melupakan bahwa kita tetap punya tanggung jawab nan kudu diselesaikan. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mencari kenyamanan, tapi juga tentang berani menghadapi hal-hal nan tidak selalu nyaman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·