Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa support Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan mandat sejarah nan lahir dari semangat Konferensi Asia Afrika.
Hal itu disampaikan Hasto dalam sambutannya di peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
Menurutnya, komitmen terhadap Palestina telah ditegaskan sejak awal melalui komunike politik Konferensi Asia Afrika nan mendukung kewenangan bangsa Palestina dan menyerukan penyelesaian damai.
Ia menekankan bahwa perjuangan melawan kolonialisme merupakan bagian dari aktivitas kebudayaan nan kudu terus dihidupkan, termasuk dalam konteks solidaritas dunia terhadap Palestina.
"Ini ditandatangani 29 pemimpin negara di dalam Konferensi Asia Afrika tersebut, di mana seluruh pemimpin dalam komunike politik itu adalah dari Indonesia kita," kata Hasto.
"Maka saudara-saudara sekalian, inilah kenapa kita kudu konsisten memperjuangkan Palestina. Kemudian nan kedua, dalam hubungan sikap nan telah dinyatakan mengenai penghapusan kolonialisme, Konferensi Asia Afrika menyokong kedudukan Indonesia dalam persoalan Irian Barat," tambahnya.
Hasto menambahkan, semangat pembebasan dari Konferensi Asia Afrika kudu terus dijaga sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap keadilan dan kemanusiaan global.
“Inilah kenapa kita kudu konsisten memperjuangkan Palestina,” tegas Hasto.
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah menilai pemikiran Soekarno tetap relevan dalam membaca dinamika dunia saat ini, termasuk bentrok dan ketegangan geopolitik.
Basarah menyebut Konferensi Asia Afrika sebagai tonggak krusial nan menunjukkan kepemimpinan Bung Karno dalam membangun solidaritas negara-negara Asia-Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme.
“Prinsip Dasasila Bandung hingga hari ini tetap relevan sebagai fondasi hubungan internasional nan berkeadilan dan beradab,” kata Basarah.
Ia menilai, meskipun kolonialisme klasik telah berakhir, praktiknya sekarang datang dalam corak baru seperti kekuasaan ekonomi, ketergantungan teknologi, hingga hegemoni informasi.
Menurutnya, kondisi dunia nan diwarnai bentrok dan ketimpangan semakin menegaskan ketepatan kajian Bung Karno tentang munculnya neoimperialisme dan neokolonialisme
“Yang kita saksikan hari ini adalah konfirmasi dari apa nan sudah diramalkan Bung Karno,” ujarnya.
Basarah menambahkan, konsep Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkarakter dalam kebudayaan, menjadi arah krusial bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan dunia sekaligus menjaga kedaulatan nasional.
Peringatan Konferensi Asia Afrika ini, lanjutnya, menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas global, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan dunia.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·