Jakarta -
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto heran jika kritikan terhadap pemerintah justru dibalas dengan laporan polisi. Hasto menilai kritik terhadap pemerintah berfaedah tanda sayang dan cinta kepada Tanah Air.
Hal itu disampaikan Hasto dalam aktivitas seminar nasional peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Hasto menyebut dalam perjalanan sejarah Indonesia kental dengan narasi pembebasan, maka tak boleh ada penindasan termasuk memberangus kritik.
"Saudara-saudara sekalian, sebagai mercusuar keadilan dan kemanusiaan dengan narasi pembebasan nan sangat kental, maka di Republik ini semestinya tidak boleh ada penindasan atas langkah apa pun. Betul? Sekarang ini kritik masalah pangan diadukan ke polisi. Kritik terhadap pemerintah diadukan kepada polisi," ujar Hasto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasto mengatakan kritikan terhadap pemerintah dilakukan lantaran rasa sayang dan cinta kepada Tanah Air. Dia mengatakan Indonesia juga dibangun dengan suatu dialektika.
"Maka Pak Basarah tadi mengatakan gimana seminar ini menjadi suatu dialektika pemikiran. Kalau kita kritik pemerintah, bukan berfaedah kita tidak mau pemerintah berhasil. Justru ketika kita kritik pemerintah, itu lantaran kita sayang, cinta Tanah Air, kepada Republik ini, Saudara-saudara sekalian," ujarnya.
Dia mengatakan Indonesia kudu menjadi sumber teladan bahwa tak masalah jika perbedaan buahpikiran dan pemikiran digerakkan dengan semangat untuk kemajuan bangsa. Dia menuturkan perihal itu krusial dalam negara demokrasi.
"Maka dengan belajar narasi pembebasan dari Konferensi Asia Afrika, kita tidak hanya menggelorakan semangat kepemimpinan Indonesia bagi dunia, tapi di dalam juga kita serukan, kita kudu menjadi sumber keteladanan bahwa perbedaan-perbedaan buahpikiran dan pemikiran selama digerakkan oleh semangat rasa cinta Tanah Air untuk kemajuan bangsa itu bukan perihal nan diharamkan, tetapi itu krusial dalam perihal demokrasi," tuturnya.
Dia mengatakan PDIP kudu menjadi partai nan kokoh, progresif, dan berdiri tegak dalam menghadapi beragam tekanan. Dia mengatakan freedom of speech, freedom to organize the people, freedom of press, termasuk berjalannya kegunaan DPR RI sebagai checks and balances di dalam bangunan sistem politik, kudu diperjuangkan demi sehatnya Indonesia dalam mencapai tujuan bernegara.
"Narasi pembebasan itulah nan kita temukan di dalam seminar ini. Dan untuk itu, jangan pernah capek berjuang bagi Indonesia kita lantaran di dalam akhir dari komunike ini dikatakan dengan sangat tegas bahwa Indonesia berdiri di muka dalam perjuangan pembebasan. Kita kudu memberikan suatu pelajaran kepada bumi bahwa tidak ada penindasan-penindasan nan terjadi di bumi Indonesia tercinta," ujarnya.
(mib/aik)
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·