Harga minyak mentah naik pada penutupan perdagangan hari Rabu (15/4). Hal ini lantaran kekhawatiran berkepanjangan tentang gangguan pasokan tetap ada, meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang dengan Iran mungkin bakal segera berakhir.
Dikutip dari Reuters pada Kamis (16/4), minyak mentah Brent naik 14 sen alias 0,1 persen menjadi ditutup di USD 94,93 per barel. Aementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1 sen menjadi USD 91,29 per barel.
Saat ini, Iran tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan kapal-kapal berlayar bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz tanpa akibat serangan. Hal ini merupakan bagian dari proposal nan diajukan dalam negosiasi dengan AS untuk mencegah bentrok kembali terjadi.
“Data pencarian terbaru menunjukkan sejumlah mini namun meningkat kapal tanker nan melintas di Selat Hormuz, meskipun secara keseluruhan lampau lintas tetap jauh di bawah level normal. Hasilnya adalah pasar nan tidak lagi memperkirakan gangguan total, tetapi tetap mempertahankan premi akibat lantaran pemulihan aliran berjalan tidak merata, bukan kembali normal secara cepat,” kata analis di firma konsultan daya Gelber & Associates.
Di sisi lain, AS telah memberlakukan blokade terhadap pengiriman nan keluar dari pelabuhan Iran. Hal ini telah sepenuhnya menghentikan perdagangan laut keluar-masuk negara tersebut
Selama 45 hari penutupan Selat Hormuz berlangsung, sekitar 20 persen pengiriman minyak dan LNG dunia telah terhambat. Lalu lintas pelayaran nan terjadi di Selat Hormuz juga hanya sebagian mini dari lebih dari 130 penyeberangan harian sebelum perang.
Di AS, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan ekonomi AS bakal melambat pada kuartal ini, tetapi tetap dalam kondisi baik dan bakal pulih. Ia juga menambahkan bahwa nilai minyak tampaknya belum mempengaruhi ekspektasi inflasi.
Sementara itu, Presiden Chicago Fed, Austan Goolsbee menyatakan kenaikan nilai minyak dapat meningkatkan ekspektasi inflasi konsumen. Ia menuturkan bank sentral AS menghadapi dua ancaman ialah dari perang dan tarif nan diberlakukan Trump.
Selain itu, IMF juga memperkirakan setidaknya bakal ada selusin negara nan mencari program pinjaman baru untuk mengatasi lonjakan nilai daya dan gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah.
Saat ini, Jepang mengatakan bakal membentuk kerangka finansial senilai sekitar USD 10 miliar untuk membantu negara-negara Asia memperoleh sumber daya dan memperkuat persediaan mereka.
Sementara Rusia sedang bersiap meningkatkan pasokan daya ke China menjelang kunjungan Presiden Vladimir Putin nan diperkirakan bakal terjadi dalam beberapa waktu mendatang.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·