Fenomena Ikan Sapu-sapu dan Krisis Lingkungan

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Joan Carles Juarez/Shutterstock

Ikan sapu-sapu mendadak menjadi artis ibukota selama sepekan terakhir. Mulai dari pemengaruh, masyarakat biasa apalagi hingga pemerintah turut memberi perhatian lebih pada jenis ikan ini. Semuanya berasal dari tindakan seorang pemengaruh berjulukan Arief Kamarudin nan rutin melakukan pembasmian ikan-ikan ini di wilayah sungai ibu kota. Kisah ini kemudian terekskalasi dengan pengakuan penggiat kuliner nan menyatakan bahwa ikan ini adalah salah satu bahan baku untuk membikin produk kuliner di Jakarta. Pengakuan tersebut kontras membikin perihal ini ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat.

Ikan sapu-sapu terkenal sangat adaptif dengan kondisi tempat tinggalnya. Sehingga jika ikan tersebut hidup di wilayah nan tercemar, maka tubuh ikan tersebut juga bakal mempunyai kandungan nan sama. Pada beberapa penelitan, telah terbukti bahwa daging ikan sapu-sapu mengandung timbal, merkuri dan kadmium. Selain itu, ikan sapu-sapu juga mempunyai sifat invasif nan menakut-nakuti populasi ikan asli. Hal ini lantas memicu aktivitas berantas ikan sapu-sapu di beragam wilayah.

Ikan sapu-sapu hanyalah satu dari banyak penyebab krisis lingkungan di Indonesia. Melihat timbangan kerusakan alam, manusia jelas menjadi penyebab perusak lingkungan terbesar di Indonesia. Mulai dari pembalakan rimba liar, penangkapan satwa dilindungi hingga penghasil emisi dan polusi alam terbesar di dunia. Di tengah kondisi kondisi alam nan semakin kritis, kesadaran manusia bakal perihal tersebut justru semakin menipis. Semua terlalu peduli dengan diri sendiri hingga lupa pada alam sekitarnya.

Alam nan Berubah

Sadarkah Anda bahwa daerah-daerah nan dahulunya di Indonesia tidak pernah terjadi banjir dan longsor, sekarang menjadi sangat rentan? Tidak tanggung, BNPB mencatatkan bahwa pada tahun 2025 terjadi sebanyak 4.727 kejadian bencana. Bencana paling banyak terjadi tentunya tidak lain dan tidak bukan ialah banjir dengan total kejadian sebanyak 2.009 kejadian. Jumlah ini sendiri meningkat tajam dari tahun 2024 dengan total kejadian banjir sebanyak 1.420 kejadian dari total 3.420 kejadian bencana.

Dampak kerusakan musibah alam nan ditimbulkan tidak main-main. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 12 juta masyarakat kudu mengungsi dan 1.666 orang meninggal dunia. Total kerusakan rumah nan terjadi adalah 281 ribu rumah. Langkah nan kemudian dilakukan pemerintah adalah melakukan realokasi masyarakat ini ke wilayah baru nan tidak terkena bencana. Pembukaan rimba kembali dilakukan dengan dalih menolong nan terluka. Alih-alih berbaikan dengan alam, nan dilakukan sejauh ini justru hanya lari dari masalah dengan masalah baru.

Sejauh mata memandang, belum ada pergerakan nan reformatif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan di Indonesia. Sebaliknya, deforestasi terus terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Global Forest Watch mencatat setiap tahun, Indonesia paling sedikit kehilangan 250 ribu hektar hutan. Mengingat ini, tentu merasa wajar jika alam semakin murka pada kehidupan manusia.

Pemerintah nan Hijau

Sejak Indonesia merdeka hingga kini, Indonesia belum pernah rasanya punya pemimpin nan memang menjadikan perbaikan alam sebagai prioritas utamanya. Begitu pun pada pemerintahan saat ini, terlihat bahwa pada tahun 2025, anggaran Kementerian Kehutanan hanya sebesar 5,46 tiliun rupiah dan Kementerian Lingkungan Hidup sebesar 754,6 miliar rupiah. Bertolak belakang tentunya dengan anggaran salah satu program nasional saat ini nan berbobot sebesar 268 triliun rupiah, ialah Badan Gizi Nasional dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, inisitiatif pemerintah juga dinilai sangat sedikit. Ada begitu banyak program nan bisa digagas untuk memulihkan kondisi alam. Mulai dari pengaturan tata letak kota, perumahan vertikal, penanaman kembali hutan, penghentian kewenangan guna upaya perusahaan dan tetap banyak lagi. Tapi semua aktivitas ini tidak pernah menjadi program unggulan. Alasannya adalah program ini dinilai tidak terkenal di kalangan masyarakat. Fakta namun berbincang perihal lain, sekarang banyak masyarakat nan telah peduli dan memulai gerakan. Tetapi pemerintah seolah mengambil sikap antipati.

Fenomena ikan sapu-sapu mungkin menjadi sebuah awal titik terang bagi pemerintahan nan hijau. Fenomena ini membuktikan bahwa saat ini mulai banyak masyarakat nan peduli dengan lingkungan sekitar. Pemerintah harusnya sadar dan mulai berbenah. Kehidupan manusia tetap panjang dan alam kudu menjadi sahabat baik manusia untuk bertahan. Sekarang kita hanya bisa menunggu apakah pemerintah bakal mulai bergerak, alias memang kudu trending dahulu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan