Empathy School Bali Bantah Tudingan tak Berizin, Tegaskan Status Non-Formal

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Empathy School Bali Bantah Tudingan tak Berizin, Tegaskan Status Non-Formal Pihak Empathy School Bali memberikan penjelasan mengenai tudingan legalitas.(MI/Arnoldus Dhae)

PIHAK Empathy School (ES) Bali secara resmi membantah tudingan sejumlah media mengenai rumor legalitas lembaga pendidikan mereka. Melalui kewenangan jawab dan penjelasan resmi, sekolah nan berlokasi di Gianyar ini menegaskan bahwa operasional mereka melangkah sesuai koridor norma sebagai pusat pembelajaran non-formal.

Communication Officer Empathy School, Abi Ardianda, menyatakan bahwa pemberitaan nan beredar dilakukan tanpa konfirmasi berimbang dan condong membentuk opini negatif. Ia menyayangkan penggunaan diksi nan seolah-olah menyimpulkan tuduhan tersebut sebagai kebenaran nan terbukti.

"Kami merespons pemberitaan di sejumlah media online atas tuduhan terhadap Empathy School tanpa konfirmasi berimbang kepada kami. Perlu diketahui bahwa pemberitaan tersebut tanpa verifikasi berimbang dan menimbulkan kesan seolah-olah tuduhan tersebut merupakan kebenaran nan telah terbukti," ujar Abi Ardianda dalam keterangan resminya, Jumat (15/5).

Status Legalitas dan Operasional

Pihak sekolah menjelaskan bahwa saat ini Empathy School beraksi sebagai pusat pembelajaran non-formal berbasis proyek di bawah naungan Yayasan Abirama Alam Empati. Lembaga ini menyatakan telah menjalin kerja sama aktif dengan dinas pendidikan setempat, termasuk menjalani pertimbangan dan kunjungan rutin.

Saat ini, Empathy School juga sedang dalam proses administratif menuju status sekolah formal. Terkait tudingan nan beredar, pihak sekolah menduga adanya upaya terkoordinasi dari pihak tertentu, termasuk keterlibatan penduduk negara asing, untuk menyudutkan lembaga mereka.

Komitmen Pendidikan Berbasis Empati

Pembina Yayasan Abirama Alam Empati, Muhammad Arsya Harryanto, menegaskan visi sekolah untuk melahirkan generasi nan pandai secara akademis sekaligus mempunyai empati tinggi terhadap sesama dan alam.

"Bagi saya, Empathy School bukan hanya melahirkan penerus bangsa nan terdidik secara akademis, tetapi juga mengedepankan empati," ungkap Arsya.

Sebagai langkah norma lebih lanjut, Empathy School tengah menyiapkan pengarsipan komplit untuk diserahkan kepada lembaga terkait, termasuk Direktorat Jenderal Imigrasi dan organisasi pekerjaan norma (PERADI), guna meluruskan segala tuduhan nan dialamatkan kepada mereka.

Sekolah nan bermulai dari konsep homeschool saat pandemi covid-19 ini menyatakan bakal tetap berkomitmen melanjutkan koordinasi dengan seluruh lembaga pemerintah dengan iktikad baik demi keberlangsungan pendidikan siswa mereka. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia