Dunia kehilangan lebih dari USD 50 miliar minyak mentah nan tak sempat diproduksi sejak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran pecah nyaris 50 hari lalu. Nilai tersebut setara Rp 859,4 triliun dengan dugaan kurs Rp 17.188 per USD.
Analis Reuters pada Minggu (19/4) menyebut akibat lanjutan dari krisis ini bakal terasa dalam beberapa bulan apalagi hingga bertahun-tahun ke depan. Sejak krisis dimulai pada akhir Februari 2026, berasas info Kpler, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat lenyap dari pasar global. Angka ini menjadi gangguan pasokan daya terbesar dalam sejarah modern.
Jika dirinci, kehilangan 500 juta barel minyak setara dengan:
Penghentian kebutuhan penerbangan dunia selama 10 minggu, alias tidak ada perjalanan darat di seluruh bumi selama 11 hari, apalagi tanpa pasokan minyak untuk ekonomi dunia selama lima hari (menurut analis Wood Mackenzie, Iain Mowat)
Hampir satu bulan kebutuhan minyak di Amerika Serikat, alias lebih dari satu bulan kebutuhan seluruh Eropa (menurut kalkulasi Reuters)
Sekitar enam tahun konsumsi bahan bakar militer AS, berasas penggunaan tahunan sekitar 80 juta barel pada tahun fiskal 2021.
Cukup untuk menopang industri pelayaran internasional selama sekitar empat bulan.
Di samping itu, negara-negara Arab di Teluk kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret, nyaris setara dengan produksi campuran Exxon Mobil dan Chevron.
Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman ambruk dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April sejauh ini, menurut info Kpler. Penurunan ini setara dengan bahan bakar untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi rute New York (JFK)–London Heathrow, menurut perkiraan Reuters.
Dengan nilai minyak mentah rata-rata sekitar USD 100 per barel sejak bentrok berlangsung, volume nan lenyap tersebut setara dengan sekitar USD 50 miliar pendapatan, kata analis Kpler Johannes Rauball. Nilai ini setara dengan pemangkasan 1 persen produk domestik bruto (PDB) tahunan Jerman, alias kira-kira sebesar PDB negara mini seperti Latvia alias Estonia.
Pemulihan Bisa Memakan Waktu Lama
Meski Selat Hormuz telah dibuka, pemulihan produksi dan pengedaran daya diperkirakan melangkah lambat.
Data Kpler menunjukkan, persediaan minyak mentah dunia di darat sudah turun sekitar 45 juta barel sepanjang April. Sejak akhir Maret, gangguan produksi tercatat mencapai sekitar 12 juta barel per hari.
Ladang minyak berat di Kuwait dan Irak diperkirakan memerlukan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali normal, nan berpotensi memperpanjang penurunan stok hingga musim panas, ujar Rauball. Selain itu, kerusakan pada kapabilitas kilang serta kompleks LNG Ras Laffan di Qatar membikin pemulihan penuh prasarana daya area diprediksi bisa berjalan hingga bertahun-tahun.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·