Dari Pencari Rumput Jadi Ketua Asrama, Danu Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Wirandanu (13), siswa kelas VII SRMP 13 Banyumas, nan biasa mencari rumput untuk ternak, sekarang mempunyai angan memperbaiki hidup berkah Sekolah Rakyat. Foto: Biro Humas Kemensos/Pian Ardiansyah

Sekolah Rakyat tidak hanya sekedar tempat mengeyam pendidikan. Bagi Wirandanu tempat ini adalah jalan mengembangkan diri, meraih cita-cita, dan mengubah hidup menjadi lebih baik.

Danu, panggilan akrabnya, merupakan siswa kelas VII di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas. Dia datang dari family sederhana nan tinggal di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, nan terletak di lereng Gunung Slamet.

Bocah berumur 13 tahun ini sejak mini tinggal berdua dengan pamannya nan telah dianggap sebagai orang tua sendiri. Ibu kandungnya diduga penyandang disabilitas mental. Meski tanpa kehadiran ibu, Danu tumbuh jadi sosok nan kuat.

"Dari mini saya udah dirawat di sini, jadi saya anggap lilik (paman) saya itu ya kayak bapak lah," kata Danu ditemui usai jam pelajaran di Banyumas, Rabu (29/4).

Kehidupan Danu tidak mudah. Pamannya bekerja sebagai pekerja gedung dengan penghasilan tidak menentu. Terkadang Danu juga membantu pamannya mencari rumput untuk pakan kambing.

"Kalau udah libur ya, itu bangun tidur, cuci muka dulu, dan sarapan, terus ngambil arit buat cari rumput, saya nyari di mana, contohnya di kebun," ujarnya.

Sekolah Rakyat datang menjadi jembatan bagi Danu untuk meraih cita-cita, termasuk membentuk karakter menjadi lebih disiplin dan mandiri.

Meskipun sebelumnya mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan pondok di Sekolah Rakyat, apalagi sempat mencoba kabur, namun lantaran support pembimbing dan tenaga pendidik, dia perlahan berubah.

"Kerasa banget (perubahannya), jika dulu ibadah biasanya, kan ada temen nan giat salat, saya hanya ngikut, misal maghrib doang, terus kedisiplinan aku, sikap saya (berubah)," ujar Danu.

Bukan hanya kedisiplinan dan kemandirian, jiwa kepemimpinan juga terbentuk. Danu dipercaya teman-temannya sebagai ketua asrama, memimpin 11 orang siswa lainnya dalam satu asrama. Baginya ini menjadi modal pengalaman untuk menggapai cita-cita menjadi pengusaha ternak kambing.

"Cita-cita jadi peternak kambing, lantaran udah kebiasaan cari rumput," tambahnya.

Anak nan menyukai mata pelajaran IPA ini, menjelaskan bahwa menjadi ketua pondok tidaklah mudah, lantaran berkedudukan menjadi pengingat bagi teman-temannya.

"Ngingetin (teman) soal piket, terus jangan ada nan masuk pondok pakai sepatu alias sandal, itu diingetin, itu cucian pada numpuk juga kudu segera dicuci," kata Danu menjelaskan tugasnya sebagai ketua asrama.

Terkadang, Danu menemui halangan saat teman-temannya susah diingatkan. Namun dia berupaya lebih bijak dan tidak terbawa emosi, menyelesaikan permasalahannya dengan berkomunikasi berbareng wali asrama.

Perkembangan karakter ini, tidak bakal didapat dari lembaga pendidikan biasa melainkan kesempatan di Sekolah Rakyat pendapat Presiden Prabowo Subianto.

"Saya mau mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan Bapak Menteri Sosial, lantaran saya bisa diterima di Sekolah Rakyat ini, banyak perubahan dari awal saya datang ke sini, dan sampai saat ini, saya dapatkan pengetahuan nan banyak," ungkapnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan