Cerita Pedagang Cendol di Kudus Menjaga Asa di Tengah Hujan

Sedang Trending 3 hari yang lalu
So'un (50) sedang membikin menu es cendol. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Mendung menggantung di langit atas Kudus pagi itu. Di pinggir jalan dekat Terminal Jetak, So’un tetap mendorong gerobak es cendolnya, berambisi ada pembeli datang.

Cuaca mendung sering kali membuatnya waswas. Sebab, dagangannya berpotensi minim pembeli. Sepekan ini dagangannya sunyi lantaran mendung dan hujan. Ia tak menampik cuaca berpengaruh pada hasil penjualan es cendol dawet buatannya.

"Kalau tidak ada nan terjual, cendolnya saya makan sendiri untuk mengganjal perut. Karena jika beli lauk, harganya sekarang mahal, sedangkan jualan saya belum laku," katanya, Kamis (16/4).

Pria 50 tahun itu sudah lama berdagang es cendol dawet. Ia sempat berdagang es cendol dawet di Jakarta, lampau beranjak pekerjaan menjadi pengemudi bus mini dan angkutan. Namun, pekerjaan menyopir mulai sepi. Akhirnya, dia kembali berdagang es cendol dawet.

Ia biasa berdagang es cendol dawet di area sekitar Terminal Jetak, Kabupaten Kudus. Sasaran pembelinya adalah tenaga kerja pekerja rokok di dekat Terminal Jetak. Dahulu dia sering berkeliling, namun usianya nan tak lagi muda menjadi argumen dia tidak lagi berkeliling.

So'un (50) sedang membikin menu es cendol. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Kalau sedang sepi, dia hanya bisa menjual dua plastik es cendol dawet. Apabila sedang beruntung, dia dapat menjual 20 plastik es cendol sejak pukul 09.00 WIB sampai 16.00 WIB.

Harga es cendol dawetnya terjangkau, berkisar Rp 5 ribu, Rp 7 ribu, dan Rp 10 ribu. Harga per porsi berjuntai pada kelengkapan jenis nan diinginkan pembeli. Es cendol dawet nilai Rp 10 ribu dilengkapi dengan alpukat dan susu cokelat.

"Jualan es cendol dawet di Kudus sudah melangkah setahun, tetapi sering sepi, terutama sepekan ini akibat hujan," terangnya.

So'un (50) sedang membikin menu es cendol. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Ia terbiasa membawa lima toples es cendol dawet di atas gerobak setiap harinya. Satu toples bisa untuk membikin sepuluh porsi es cendol dawet.

"Sepekan ini sunyi pembeli. Hanya ada satu dua pembeli saja seharian, dari pagi sampai sore," ujarnya.

Kalau sedang sunyi pembeli, dia mengaku kesulitan untuk membeli bahan baku. Alhasil, dia kudu libur berjualan. Ia menjelaskan, dalam sekali berjualan, dia memerlukan modal Rp 200 ribu.

Apabila dagangannya tidak lenyap sampai malam hari, mau tak mau dia kudu membuangnya lantaran es cendol dawetnya sudah berbau. Kerugian dialaminya, namun dia tak punya pilihan lain.

"Kalau disimpan lagi tidak bisa. Pasti sudah berbau tidak enak. Ya rugi pasti, tetapi mau gimana lagi," imbuhnya.

Meski begitu, So'un tetap tak patah arang. Dia percaya rezeki sudah ada nan mengatur asal terus berusaha, bekerja keras dan berdoa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan