Seekor anak burung raja-udang Mikronesia (Todiramphus cinnamominus) sukses menetas di San Antonio Zoo, Amerika Serikat. Penetasan ini menjadi angan baru bagi jenis nan telah dinyatakan punah di alam liar.
Anak burung nan tetap belum diberi nama ini tampak menggemaskan dengan ekspresi jutek-nya. Namun, keberadaannya sangat berarti, mengingat spesies ini sudah tidak lagi ditemukan di kediaman aslinya.
Menetaskan anak burung dari jenis ini bukan perkara sederhana. Burung raja-udang Mikronesia, nan juga bisa disebut burung raja-udang Guam, terkenal sangat selektif dalam memilih pasangan.
Beruntung, induk dari anak burung ini sukses berjodoh pada awal tahun 2026, nan kemudian diikuti dengan kelahiran sang anak. Kelahiran ini menjadi berita baik di tengah sejarah kelam jenis tersebut selama sekitar 80 tahun terakhir.
Burung ini dulunya hanya ditemukan di Pulau Guam, Pasifik. Namun, populasinya menurun drastis akibat invasi ular pohon cokelat nan masuk melalui kontainer pengiriman pada 1940-an.
Penurunan populasi terjadi begitu sigap hingga jenis ini resmi dinyatakan punah di alam liar pada 1988. Sebelum kepunahan itu terjadi, para konservasionis telah mengambil langkah penyelamatan. Pada 1983, mereka meluncurkan program Guam Bird Rescue Project dengan memindahkan 29 burung tersisa ke dalam perawatan manusia.
Sejak saat itu, beragam lembaga konservasi, termasuk Kebun Binatang San Antonio, terus berupaya menjaga dan mengembangkan populasi burung langka ini. Anak burung nan baru menetas ini merupakan nan pertama dalam lima tahun terakhir di kebun hewan tersebut, sekaligus menjadi perseorangan ke-47 sejak pasangan pertama burung ini tiba pada 1985.
Presiden sekaligus CEO San Antonio Zoo, Tim Morrow, menyebut pencapaian ini sebagai bagian dari upaya panjang pelestarian spesies.
“Kami telah menjadi bagian dari perjalanan jenis ini selama lebih dari 40 tahun. Kelahiran ini melanjutkan komitmen kami untuk memastikan burung ini tidak hanya bertahan, tetapi juga suatu hari bisa kembali berkembang di alam liar,” ujarnya.
Upaya konservasi sekarang juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Pada 2024, sembilan burung raja-udang Mikronesia dilepasliarkan ke Atol Palmyra, sebuah pulau terpencil bebas predator nan juga merupakan area suaka margasatwa Amerika Serikat.
Namun, meski sudah dilepasliarkan, jenis ini tetap dikategorikan punah di alam liar. Hal ini lantaran letak pelepasliaran berada jauh dari kediaman aslinya di Guam, sekitar 6.000 kilometer.
Selain itu, proses pemulihan populasi memerlukan waktu. Para intelektual tetap terus memantau perkembangan burung-burung tersebut untuk memastikan mereka dapat memperkuat dan berkembang secara mandiri.
Ada secercah angan dari upaya ini. Pada April 2025, burung nan dilepasliarkan tersebut dilaporkan sukses bertelur, menjadi kejadian pertama di alam liar dalam nyaris 40 tahun. Kelahiran anak burung di Kebun Binatang San Antonio pun menjadi simbol krusial bahwa jenis ini tetap mempunyai kesempatan untuk bangkit dari periode kepunahan.
Meski jalannya panjang, langkah mini seperti ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi dapat membawa perubahan nyata bagi kelangsungan hidup jenis langka di dunia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·