Bukan Sarjana Pendidikan, Namun Terpanggil untuk Mendidik

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Ilustrasi lulus kuliah Foto: Shutterstock

Saya tidak pernah membayangkan diri saya bakal menjadi seorang guru. Sebagai lulusan Sarjana Sains dengan skill di bagian fisika, sejak awal saya lebih memproyeksikan masa depan di bumi konsep, perhitungan, dan eksperimen. Fisika membentuk langkah berpikir saya menjadi logis, kritis, dan terstruktur. Saya terbiasa mencari kebenaran melalui kajian dan pembuktian, bukan melalui hubungan langsung di ruang kelas nan penuh dinamika.

Namun, perjalanan hidup tidak selalu sejalan dengan rencana. Pada suatu titik, saya dihadapkan pada kesempatan untuk mengajar. Saya menerimanya dengan penuh keraguan lantaran menyadari bahwa saya bukan berasal dari latar belakang pendidikan. Saya tidak mempunyai pengetahuan pedagogik, belum memahami langkah mengelola kelas, dan belum pernah betul-betul berkedudukan sebagai pendidik. Pertanyaan tentang keahlian diri terus muncul dalam pikiran saya.

Pengalaman awal mengajar pun tidak mudah. Saya menyadari bahwa menguasai materi fisika tidak secara otomatis membikin saya bisa menyampaikannya dengan baik. Ada kalanya siswa kesulitan memahami penjelasan saya, dan tidak jarang suasana kelas melangkah di luar harapan. Kondisi tersebut sering memunculkan rasa tidak percaya diri dan membikin saya mempertanyakan keputusan nan telah saya ambil.

Meski demikian, di tengah keterbatasan itu, saya menemukan dorongan kuat untuk terus belajar. Saya mulai memahami bahwa menjadi pembimbing bukan tentang langsung sempurna, melainkan tentang kesungguhan menjalani proses. Saya belajar dari beragam sumber, mengawasi langkah mengajar orang lain, mencoba beragam metode, dan menjadikan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran.

Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa setiap siswa mempunyai style belajar nan berbeda. Saya berupaya menyesuaikan langkah penyampaian, menyederhanakan konsep-konsep fisika nan rumit, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dari situ, saya memandang perubahan nan nyata—baik pada siswa maupun pada diri saya sendiri. Ada kepuasan tersendiri ketika siswa mulai memahami materi, berani bertanya, dan menunjukkan rasa mau tahu nan lebih besar.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa menjadi pembimbing tidak sepenuhnya ditentukan oleh latar belakang pendidikan formal. Meskipun gelar Sarjana Sains tidak secara langsung membekali saya dengan keahlian mengajar, perihal itu memberi saya dasar berpikir nan kuat untuk terus berkembang. Saya memahami bahwa keahlian mengajar bisa dipelajari, tetapi ketulusan dan komitmen dalam mendidik kudu tumbuh dari dalam diri.

Kini, saya memandang pekerjaan pembimbing bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan. Panggilan untuk berbagi ilmu, membimbing, dan memberikan akibat bagi orang lain. Walaupun saya tidak memulai dari jalur nan umum, setiap proses nan saya jalani telah membentuk saya menjadi pribadi nan lebih sabar, terbuka, dan bertanggung jawab.

Saya adalah lulusan Sarjana Sains di bagian fisika, tetapi juga seorang pembelajar nan terus berkembang dalam peran sebagai pendidik. Walaupun tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal, saya mempunyai kemauan untuk terus belajar dan hati nan terdorong untuk mendidik. Pada akhirnya, menjadi pembimbing bukan hanya tentang apa nan dipelajari di bangku kuliah, tetapi tentang gimana kita memilih untuk memberi makna bagi kehidupan orang lain.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan