Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengisyaratkan ruang penurunan suku bunga referensi kian terbatas seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Perry mengaku sedang rekalibrasi alias penyesuaian ulang kebijakan untuk merespons tekanan eksternal nan dipicu bentrok geopolitik dan gejolak pasar global.
"Mengenai suku kembang meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga kudu kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas," ujar Perry saat rapat kerja berbareng Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4).
Perry mengungkapkan BI juga bakal menyesuaikan instrumen moneter, termasuk meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal masuk, sekaligus meredam tekanan terhadap rupiah.
"Kenapa sekarang untuk tahun 2026 ini untuk SRBI-nya mulai bakal naik, ini agar memang kami kudu juga mem-balance antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi, dan juga gimana agar outflow itu tidak terlalu buruk," kata Prabowo.
Perry mengatakan rekalibrasi ini menjadi perubahan arah dari kebijakan sebelumnya, di mana BI sempat menurunkan imbal hasil SRBI secara agresif. Kini, penyesuaian dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar finansial dan kecukupan likuiditas perbankan.
"Likuiditas perbankan kita jaga M0-nya (uang primer) tetap double digit apalagi 13,3 persen, kami jaga agar kecukupan likuditas itu tercapai," tutur Perry.
Selain itu, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar obligasi domestik.
"Tahun ini kami year to date-nya sudah membeli Rp 90,05 triliun (SBN) itu nan kami sudah lakukan," kata Perry.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·