Dugaan kasus kekerasan di daycare Little Aresha di wilayah Umbulharjo, Yogyakarta, saat ini tetap diusut polisi. Sejauh ini dilaporkan setidaknya ada 53 anak nan jadi korban, dari umur 0 hingga 3 bulan.
Kasus ini awalnya terbongkar dari mantan pegawai nan merasa nuraninya tercabik mengetahui penelantaran hingga penganiayaan bayi nan terjadi setiap hari di daycare tersebut. Mulai dari bayi nan hanya dipakaikan popok sekali pakai tanpa baju, diikat kakinya dengan kain, hingga penganiaayaan nan dilakukan oleh pengasuh daycare.
Banyak orang tua nan anaknya menjadi korban di daycare Little Aresha turut buka suara. Kasus ini tentu sangat menyakitkan bagi para korban dan keluarganya.
Nah Moms, berkaca dari kasus tersebut, psikolog pendidikan dan anak dari Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, S.Psi, Psikolog, menuturkan sejumlah tanda nan patut dicurigai pada anak saat dititip ke daycare.
Tanda Anak Merasa Tidak Aman di Daycare
1. Perubahan Perilaku dan Emosi
Salah satu contohnya, seperti: anak nan tadinya periang tiba-tiba menjadi pendiam, pencemas, alias garang dan impulsif.
"Bisa juga terjadi kemunduran perilaku seperti kembali mengompol nan tadinya sudah bisa mandiri," tutur Orissa kepada kumparanMOM.
2. Tidur Terganggu
Misalnya anak menjadi susah tidur alias mengalami mimpi jelek nan berulang.
3. Muncul Keluhan Fisik
Saat misalnya mendekati gedung daycare anak mengeluh sakit kepala, sakit perut, alias tidak lezat badan tanpa adanya indikasi medis sedang sakit tertentu.
"Perhatikan juga jika anak pulang dari daycare mengalami memar alias luka bentuk di tubuhnya," kata Orissa.
4. Anak Menolak Diajak ke Daycare
Moms, sebenarnya wajar jika saat awal anak masuk daycare dia menangis jika berpisah dengan orang tua. Tetapi, ada beberapa kondisi nan perlu dicurigai, seperti:
- Sudah cukup lama di daycare dan biasanya sudah bisa ditinggal, tiba-tiba kembali menangis saat diantar ke daycare,
- Hanya menangis saat diantar dan ditinggal di daycare, sementara jika ditinggal di tempat lain seperti di rumah nenek, tidak menangis.
5. Dengar dan Jangan Anggap Remeh Keluhan Anak
Ketika anak memang sudah bisa berkomunikasi verbal dan sudah bisa menceritakan pengalamannya, orang tua perlu mendengar dari sisi anak, apakah dia mengalami pengalaman nan tidak menyenangkan.
"Atau anak nan tadinya biasa bercerita kemudian menjadi pendiam lantaran ada nan ditutupi, itu juga bisa menjadi indikasi," tutup Orissa.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·