Banjir. Kata nan sebenarnya sederhana, tapi dampaknya selalu luar biasa. Setiap kali hujan turun dengan intensitas nan sedikit lebih tinggi dari biasanya, kita sudah bisa menebak apa nan bakal terjadi. Jalanan mulai tergenang, kendaraan macet total, rumah penduduk kemasukan air, dan aktivitas masyarakat terganggu. Ironisnya, ini bukan kejadian nan baru. Bahkan bisa dibilang, ini sudah menjadi “ritual tahunan” di banyak wilayah di Indonesia.
Pertanyaannya, kenapa banjir selalu terulang? Apakah ini murni lantaran aspek alam? Atau sebenarnya ada kesalahan nan terus kita ulang tanpa pernah betul-betul diperbaiki?
Kalau kita jujur, banjir nan terjadi saat ini bukan hanya lantaran hujan. Hujan memang menjadi pemicu, tapi bukan penyebab utama. Penyebab utamanya justru datang dari kita sendiri—baik dari masyarakat maupun dari pemerintah nan belum sepenuhnya menjalankan tanggung jawabnya.
Mari kita lihat dari sisi nan paling dekat dulu: masyarakat.
Masih banyak orang nan menganggap remeh soal sampah. Selokan, parit, apalagi sungai sering dijadikan tempat pembuangan nan “praktis”. Tidak perlu repot, tidak perlu jauh-jauh ke tempat sampah, cukup buang ke aliran air, selesai. Padahal, tindakan mini seperti ini punya akibat besar.
Sampah nan menumpuk di selokan bakal menghalang aliran air. Saat hujan deras turun, air tidak bisa mengalir dengan lancar. Akhirnya, air meluap ke jalan dan pemukiman warga. Ini bukan teori, ini kebenaran nan bisa kita lihat sendiri setiap kali banjir terjadi.
Yang lebih menyedihkan, banyak orang nan tetap menyalahkan pemerintah sepenuhnya tanpa memandang perannya sendiri. Seolah-olah semua kesalahan ada di pihak lain. Padahal, jika setiap orang menjaga lingkungannya, minimal akibat banjir bisa berkurang.
Di sinilah muncul pertanyaan nan cukup keras tapi perlu ditanyakan: ke mana kesadaran masyarakat?
Kesadaran bukan soal tahu alias tidak tahu. Hampir semua orang tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah. Tapi masalahnya, tidak semua orang mau peduli. Ada nan berpikir, “Ah, hanya satu sampah, tidak bakal berpengaruh.” Tapi bayangkan jika semua orang berpikir seperti itu. Satu sampah dikali ribuan orang, hasilnya adalah tumpukan nan menyumbat seluruh sistem drainase.
Kesadaran itu bukan teori, tapi kebiasaan. Dan kebiasaan ini tetap belum terbentuk dengan baik di banyak tempat.
Namun, tidak setara juga jika kita hanya menyalahkan masyarakat. Pemerintah juga punya peran besar dalam masalah ini.
Banyak sistem drainase nan dibangun tidak sesuai dengan kebutuhan. Ada selokan nan terlalu mini untuk menampung debit air saat hujan deras. Ada juga nan sudah rusak tapi tidak segera diperbaiki. Bahkan di beberapa daerah, pembangunan justru menutup jalur air nan sudah ada.
Selain itu, perawatan saluran air juga sering kurang maksimal. Selokan jarang dibersihkan secara rutin. Akibatnya, ketika musim hujan datang, saluran sudah dalam kondisi penuh dan tidak siap menampung air tambahan.
Kebijakan pemerintah juga sering terlihat tidak konsisten. Ada program penanganan banjir, tapi tidak berkelanjutan. Ada proyek pembangunan, tapi tidak memperhatikan akibat lingkungan. Semua terlihat seperti solusi sementara, bukan solusi jangka panjang.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya: ke mana kebijakan pemerintah?
Apakah sudah betul-betul konsentrasi pada akar masalah? Atau tetap sekadar menangani akibat di permukaan?
Banjir bukan masalah nan bisa diselesaikan dalam semalam. Tapi bukan berfaedah tidak bisa diatasi. Banyak kota di bumi nan sukses mengurangi akibat banjir dengan perencanaan nan matang. Mereka memperhatikan sistem drainase, ruang terbuka hijau, hingga pengelolaan sampah nan terintegrasi.
Di Indonesia, sebenarnya bukan tidak bisa. Tapi sering kali nan kurang adalah konsistensi dan keseriusan.
Masalah lainnya adalah berkurangnya lahan resapan air. Banyak area nan dulunya tanah terbuka sekarang berubah menjadi bangunan. Air nan semestinya meresap ke dalam tanah akhirnya mengalir di permukaan. Jika jumlahnya terlalu banyak dan saluran tidak memadai, banjir tidak bisa dihindari.
Ini menunjukkan bahwa masalah banjir sangat kompleks. Tidak bisa disederhanakan hanya sebagai “hujan deras”. Ada aspek lingkungan, perilaku masyarakat, dan kebijakan pemerintah nan semuanya saling berkaitan.
Yang membikin situasi ini semakin parah adalah budaya saling menyalahkan.
Saat banjir terjadi, masyarakat menyalahkan pemerintah. Pemerintah menyalahkan curah hujan nan tinggi. Di sisi lain, tidak banyak nan betul-betul introspeksi dan mencari solusi bersama.
Padahal, solusi terbaik justru ada pada kerja sama.
Masyarakat kudu mulai dari perihal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan ikut berperan-serta dalam aktivitas gotong royong. Ini mungkin terlihat kecil, tapi dampaknya besar jika dilakukan bersama.
Sementara itu, pemerintah kudu lebih tegas dan serius. Perlu ada perbaikan sistem drainase nan menyeluruh, bukan tambal sulam. Perlu juga ada edukasi nan berkepanjangan kepada masyarakat, bukan hanya saat banjir terjadi.
Penegakan patokan juga penting. Tidak cukup hanya mengimbau, tapi kudu ada hukuman bagi nan melanggar. Karena tanpa ketegasan, patokan hanya bakal jadi tulisan tanpa makna.
Selain itu, perencanaan kota kudu lebih memperhatikan aspek lingkungan. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar untung jangka pendek, tapi juga kudu memikirkan akibat jangka panjang.
Kalau semua pihak mau bergerak, sebenarnya banjir bisa dikurangi. Mungkin tidak lenyap sepenuhnya, tapi setidaknya tidak separah nan terjadi sekarang.
Masalahnya, perubahan itu butuh kemauan. Dan kemauan ini sering kali kalah oleh kebiasaan lama.
Kita sudah terlalu terbiasa memandang banjir sebagai perihal nan “wajar”. Padahal, tidak ada nan wajar dari rumah nan terendam air, dari anak-anak nan tidak bisa sekolah, dari pedagang nan kehilangan penghasilan lantaran dagangannya rusak.
Semua itu adalah kerugian nyata nan semestinya bisa dicegah. Jadi, sampai kapan kita bakal terus seperti ini? Sampai kapan kita bakal terus bertanya “kenapa banjir lagi?” tanpa pernah betul-betul mencari jawabannya?
Jawabannya sebenarnya sudah jelas. Kita hanya perlu berani mengakuinya dan mulai berubah. Banjir bukan hanya masalah air nan meluap. Banjir adalah gambaran dari langkah kita hidup, langkah kita memperlakukan lingkungan, dan langkah kita mengelola kota.
Kalau kita tetap mengabaikan hal-hal kecil, jangan heran jika masalah besar terus datang. Dan jika kita terus menunda perubahan, maka setiap hujan bakal selalu membawa cerita nan sama: genangan, kerugian, dan penyesalan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·