Bangun 2 Kilang Bensin Baru, Pertamina Targetkan Rampung di 2030

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga tengah membangun dua kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan produk bensin pada akomodasi eksisting di Dumai dan Cilacap.

Kedua kilang nan baru saja diresmikan pembangunannya oleh Presiden Prabowo Subianto kemarin, Rabu (29/4/2026), ditargetkan rampung dan bisa mulai berproduksi pada akhir 2030 mendatang.

Direktur Infrastruktur Project dan Aset Integritas Pertamina Patra Niaga Setyo Pitoyo menjelaskan bahwa proyek peningkatan kapabilitas produksi bensin nasional itu tengah di tahap penghitungan parameter investasi. Tidak lain tujuannya agar memberikan akibat positif bagi negara.

Dia menyebut sasaran pengoperasian pada 2030 tersebut tetap merupakan agenda sementara sembari menunggu hasil studi teknis lebih lanjut.

"Sementara dijadwalkan selesai di tahun 2030, sementara ya. Itu kan kami belum melakukan studi engineering, belum melakukan apa pun itu gitu kan," ujarnya saat ditemui di Cilacap, dikutip Kamis (30/4/2026).

Untuk mencapai sasaran tersebut, Pertamina tengah mempertimbangkan upaya percepatan pembangunan dengan menggunakan teknologi modular. Metode tersebut memungkinkan komponen kilang dikerjakan secara paralel di luar letak proyek agar proses instalasi akhir melangkah lebih efisien dan cepat.

"Moga-moga dengan adanya studi-studi alias upaya-upaya percepatan misalkan dengan pembangunan menggunakan modular jadi kita bangun secara paralel di luar kelak tinggal kayak main puzzle tuh. Kayak main puzzle tuh moga-moga bisa lebih cepat," paparnya.

Kedua akomodasi kilang baru tersebut dirancang bisa memproduksi produk bensin dengan standar oktan tinggi. Setyo menekankan bahwa spesifikasi produk nan dihasilkan minimal bakal setara dengan kualitas bahan bakar jenis Pertamax (RON 92).

"Gasoline itu bensin, bensin ya. Betul. Standarnya jika nan kelak itu langsung minimum itu kualitas Pertamax," tambahnya.

Investasi untuk membangun masing-masing kilang tersebut diperkirakan menyentuh nomor US$ 600 juta alias setara Rp 10,4 triliun (asumsi kurs Rp 17.337 per US$). Artinya, Perusahaan memerlukan total pendanaan hingga US$ 1,2 miliar alias setara Rp 20,82 triliun untuk pembangunan dua kilang bensin baru tersebut.

"Masing-masing US$ 600 juta, sehingga total bakal sekitar US$ 1,2 miliar ya. Itu belum termasuk misalkan kita kudu melakukan upgrade utilities alias upgrade akomodasi dan lain-lainnya," jelasnya.

Diresmikan Presiden Prabowo

Perlu diketahui, pada Rabu (29/4/2026), Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi fase ke-2 dengan perkiraan investasi mencapai Rp 116 triliun. Dari 13 proyek hilirisasi tersebut, 5 proyek berasal dari sektor energi, 5 proyek sektor mineral, dan 3 proyek di sektor pertanian.

Presiden menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah esensial dalam mentransformasi struktur ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis industri berbobot tambah tinggi nan lebih handal terhadap dinamika global.

"Tadi sudah disebut hilirisasi tahap pertama ada 13 proyek di 13 letak dan beberapa saat ini, tahun ini juga kita bakal tambah hilirisasi 6 lagi proyek, dan terus menerus bakal kita tambah. Mungkin ada tahap ke 4, 5, 6, insya Allah tahun ini juga," terang Prabowo dalam aktivitas peresmian di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

Prabowo menegaskan, bahwa hilirisasi sumber daya alam di Indonesia menjadi jalan satu-satunya agar Indonesia bisa lebih makmur. Oleh lantaran itu, pemerintah bakal terus melanjutkan pembangunan hilirisasi di Tanah Air.

"Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur," tegas Prabowo.

2 Proyek Kilang BBM

Nantinya, pengembangan kapabilitas kilang gasoline dilakukan pada akomodasi eksisting RU II Dumai dan RU IV Cilacap. Total kapasitasnya mencapai 62.000 barel per hari (bph) nan ditargetkan beraksi pada Kuartal IV-2030.

"Proyek ini mensubstitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun alias 9,47% gap supply-demand nasional, mendukung pemenuhan Pertamax Series dari produksi domestik, serta menurunkan impor produk sampingan termasuk propylene dan LPG," tulis Danantara dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (30/4/2026).

Proyek tersebut dinilai bakal berkontribusi pada penguatan ketahanan daya nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai energi, nan pada akhirnya mendukung daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain kilang, program tersebut mencakup sektor energi, logam dan mineral, material konstruksi, serta agroindustri, nan bermaksud untuk menurunkan ketergantungan impor, memperkuat rantai pasok industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, serta mendorong terciptanya kesempatan kerja dan aktivitas ekonomi nan lebih luas bagi masyarakat.

"Hilirisasi merupakan instrumen strategis dalam mendorong pembuatan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan dan industrialisasi sumber daya alam," tambah Danantara.

Selain meningkatkan nilai tambah, hilirisasi dinilai berkedudukan dalam memperkuat kemandirian ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok dunia nan dalam kondisi tertentu dapat menghadapi dinamika dan ketidakpastian, termasuk aspek geopolitik.

Melalui penguatan rantai pasok domestik, hilirisasi turut memastikan kesiapan kebutuhan nasional secara lebih andal, sekaligus mendorong transformasi struktur ekonomi menuju pedoman industri berbobot tambah tinggi.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News