Jakarta -
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan pentingnya membangun kepemimpinan sejak usia muda sebagai fondasi menghadapi tantangan abad ke-21. Generasi muda dinilai tak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga kudu mempunyai visi, keahlian mengambil keputusan, serta integritas nan kuat di tengah dinamika global.
Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi pembicara di aktivitas Leadership and Organizational Training of Student (LOTUS) 2026 SMA Labschool Bintaro, Kamis (23/4).
Berdasarkan laporan World Economic Forum 2025, keahlian berpikir strategis dan kepemimpinan menjadi dua dari sepuluh keahlian utama nan kudu dimiliki generasi masa depan. Sejalan dengan perihal tersebut, Bamsoet menekankan pentingnya pembentukan kepemimpinan sejak dini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kepemimpinan itu bukan sesuatu nan muncul tiba-tiba ketika seseorang sudah punya jabatan. Kepemimpinan justru dibentuk sejak muda, sejak di bangku sekolah, dari hal-hal sederhana nan kita lakukan setiap hari," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Ia menuturkan, kepemimpinan visioner menjadi komponen utama nan kudu ditanamkan kepada generasi muda agar bisa merumuskan masa depan dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah generasi muda Indonesia mencapai 66 juta jiwa, mempunyai potensi besar untuk menjadi motor penggerak pembangunan nasional. Namun, potensi tersebut memerlukan pembinaan nan berkepanjangan melalui pendidikan karakter dan pengalaman organisasi.
"Pemimpin nan baik adalah mereka nan punya visi, punya gambaran jelas tentang masa depan nan mau dicapai, lampau bisa membujuk orang lain bergerak berbareng menuju tujuan itu," kata Bamsoet.
Bamsoet juga menekankan integritas dan etika sebagai pilar utama kepemimpinan. Menurutnya, kepercayaan publik, termasuk dalam lingkup mini seperti sekolah, sangat ditentukan oleh konsistensi antara ucapan dan tindakan. Fenomena krisis kepercayaan nan terjadi saat ini menunjukkan sungguh pentingnya integritas sebagai modal sosial.
"Integritas itu sederhana, kesesuaian antara apa nan kita katakan dan apa nan kita lakukan. Kalau seorang pemimpin tidak punya integritas, kepercayaan bakal lenyap dengan sendirinya," ungkapnya.
Ia menambahkan, etika dalam kepemimpinan tercermin melalui sikap menghargai orang lain, adil, serta bisa menjadi teladan. Kepemimpinan nan berorientasi pada kekuasaan semata dinilai tidak lagi relevan di era modern.
Sebaliknya, pendekatan kepemimpinan nan mengedepankan nilai moral dan keteladanan terbukti lebih efektif dalam membangun kepercayaan dan solidaritas, baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat luas.
"Pemimpin adalah seorang nan mau berkorban waktu, kekayaan dan perasaan. Pemimpin juga kudu bisa membaca nan tidak tertulis dan bisa mendengar apa nan tidak terucap," pungkas Bamsoet.
(anl/ega)
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·