Airlangga Ungkap Prabowo Setujui RI Kirim 250 Ribu Ton Pupuk ke Australia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersiap mengikuti rapat nan dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan Presiden Prabowo telah menyetujui pengiriman pupuk ke Australia sebanyak 250 ribu ton.

Selain Australia, ada India, Filipina, dan Brasil nan tertarik mendatangkan pupuk dari Indonesia. Namun, Airlangga belum bisa mengungkapkan apakah permintaan ketiga negara itu sudah disetujui alias belum.

“Beberapa negara meminta kepada Indonesia, India, Filipina maupun Australia. Bapak Presiden (Prabowo) sudah memberikan kepada Australia 250 ribu ton,” ungkap Airlangga dalam konvensi pers di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).

Airlangga memastikan pasokan pupuk di dalam negeri sudah aman. Berdasarkan info Pupuk Indonesia per 20 April 2026, pasokan pupuk saat ini mencapai sekitar 1,18 juta ton.

Ilustrasi pupuk milik PT Pupuk Indonesia. Foto: Pupuk Indonesia

“Kita menetapkan nilai untuk industri tertentu termasuk pupuk nan dijaga USD 6,5 dolar sehingga dengan demikian pupuk kita surplus,” ujar Airlangga

Airlangga menekankan kondisi tersebut menunjukkan Indonesia mempunyai ketahanan nan cukup baik di sektor pangan, energi, dan kelistrikan, sehingga akibat perubahan dunia dapat relatif dimitigasi.

Kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) saat ini mencapai 14,65 juta ton per tahun. Angka tersebut terdiri dari urea sebesar 9,36 juta ton, NPK sebanyak 4,52 juta ton, ZA sebesar 750 ribu ton, serta ZK sebesar 20 ribu ton per tahun.

Dari total kapabilitas tersebut, terdapat potensi kelebihan pasokan nan dapat dimanfaatkan untuk ekspor secara terukur. Meski demikian, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono tetap menegaskan kebutuhan dalam negeri bakal menjadi prioritas utama sebelum realisasi ekspor dilakukan.

“Kita Indonesia bakal mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses alias kelebihan sekitar 1,5 juta ton nan bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelas Sudaryono, dikutip Kamis (23/4).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan