Ada Titik-titik di Ujung Doa Sal Priadi dan Era 'Relatable Content'

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Penyanyi Salmanto Ashrizky Priadi alias Sal Priadi tampil pada aktivitas Banten Creative Fest 2026 di Alun-alun Barat Kota Serang, Banten, Kamis (12/3/2026). Foto: Angga Budhiyanto/ ANTARA FOTO

Nama Sal Priadi kembali bergaung di linimasa. Bukan lantaran rilisan baru, melainkan lantaran lagu lamanya, Ada Titik-titik di Ujung Doa, nan mendadak menemukan kehidupan kedua di media sosial.

Dua tahun setelah dirilis sebagai bagian dari album Markers And Such Pens Flashdisks, lagu ini justru terasa semakin relevan, seolah-olah baru saja ditulis kemarin. Di TikTok, IG Reels, hingga Twitter (X), potongan liriknya digunakan sebagai latar video-video personal: tentang kehilangan, hubungan nan tak selesai, hingga cerita-cerita mini tentang mengampuni tanpa pernah betul-betul mendapat penjelasan. Lagu ini tidak sekadar diputar, dia dihidupkan ulang melalui pengalaman banyak orang.

Sal Priadi sendiri mengaku terkejut sekaligus terharu memandang lagunya kembali beresonansi. “Terima kasih banyak. Senang banget teman-teman tetap dengerin sampai hari ini, tetap respons di sosial media,” ujarnya dengat raut wajah senang saat berbincang dengan kumparan.

Namun, kejadian ini bukan sekadar nostalgia alias tren sesaat. Ada sesuatu nan lebih dalam nan menjelaskan kenapa 'Ada Titik-titik di Ujung Doa' kembali viral, dan itu berangkaian erat dengan selera audiens hari ini.

Solois Sal Priadi turut memeriahkan Jazz Gunung Slamet 2024 nan digelar di Bumi Perkemahan Palawi, Wana Wisata Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu (11/5/2024). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Luka nan Tidak Pernah Selesai

Beberapa tahun terakhir, lanskap konten digital dipenuhi oleh narasi-narasi nan lebih individual dan reflektif. Audiens, khususnya generasi muda, semakin terbuka membicarakan kesehatan mental, trauma, dan relasi nan kompleks. Dalam konteks ini, lagu Sal Priadi menemukan momentumnya.

Tema utama lagu ini—-memaafkan orang nan tidak pernah meminta maaf—-adalah pengalaman nan sangat universal, namun jarang diartikulasikan dengan jujur. Sal tidak menawarkan resolusi nan manis. Ia justru membujuk pendengar untuk tinggal lebih lama di ruang nan tidak nyaman itu.

“Lagu itu gue tulis tema besarnya adalah untuk maafin orang nan enggak pernah minta maaf sama kita,” kata Sal.

Di tengah budaya nan sering menuntut closure, lagu ini justru berbincang tentang ketiadaan closure itu sendiri. Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.

Era “Relatable Content”

Algoritma media sosial hari ini condong mengangkat konten nan terasa 'relatable' nan bisa membikin seseorang berakhir scrolling lantaran merasa, “ini gue banget.” Lagu “Ada Titik-titik di Ujung Doa” bekerja dengan langkah nan sama.

Liriknya tidak spesifik pada satu cerita, sehingga mudah diadaptasi ke beragam konteks. Seseorang bisa mengaitkannya dengan hubungan romantis nan kandas, bentrok keluarga, alias apalagi kehilangan teman. Fleksibilitas makna ini membikin lagu tersebut menjadi semacam kanvas emosional.

video youtube embed

Ditambah lagi, tren penggunaan audio sebagai 'soundtrack perasaan' memperpanjang umur sebuah lagu. Ketika satu video viral, ratusan apalagi ribuan video lain mengikuti—menciptakan pengaruh domino nan membawa lagu tersebut kembali ke permukaan.

Dari Audio ke Visual: Memperpanjang Umur Emosi

Melihat gelombang respons ini, Sal Priadi tidak tinggal diam. Ia dan timnya memutuskan untuk menghadirkan video musik sebagai perpanjangan narasi.

“Akhrinya kami memutuskan untuk menceritakannya lebih lanjut lewat audio visual,” jelasnya.

video youtube embed

Langkah ini bukan hanya strategi, tetapi juga corak penghormatan terhadap perjalanan lagu tersebut. Video musik menjadi medium baru untuk memperdalam emosi nan sebelumnya hanya hidup dalam khayalan pendengar.

Memaafkan sebagai Bentuk Pembebasan

Di kembali semua itu, inti dari lagu ini tetap sederhana namun berat: tentang keikhlasan. Sal mengakui bahwa proses mengampuni tanpa adanya permintaan maaf adalah sesuatu nan menyesakkan. Namun justru di situlah letak pembebasannya.

“Belajar bahwa minta maaf sama orang nan justru bikin salah sama kita itu perihal nan juga patut dilakukan agar bikin hati kita damai,” tutupnya.

Mungkin itulah argumen paling jujur kenapa lagu ini kembali viral. Bukan semata lantaran algoritma, tetapi lantaran banyak orang nan sedang berada di fase hidup nan sama, ialah mencoba berbaikan dengan hal-hal nan tidak pernah selesai.

Dan di tengah riuhnya bumi digital, “Ada Titik-titik di Ujung Doa” datang seperti ruang sunyi: tempat orang-orang bisa berakhir sejenak, merasakan, lampau perlahan melepaskan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan