4 Pola Pikir soal Perencanaan Keuangan yang Justru Bikin Semakin Boncos

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi milenial kesulitan mengatur keuangan. Foto: Shutterstock

Perencanaan keuangan merupakan salah satu kunci dari stabilitas finansial. Dengan mengetahui langkah mengelola duit dengan baik, kita bisa mencapai financial freedom dan siap menghadapi beragam perubahan besar dalam hidup, termasuk saat pensiun nanti.

Sayangnya, tetap banyak wanita nan secara finansial belum siap untuk menghadapi perubahan besar. Bahkan, menurut survei terbaru nan dilakukan oleh Sunlife pada 2026, setidaknya hanya 19 persen wanita Indonesia nan merasa sangat siap untuk menghadapi kejadian finansial nan tak terduga. Padahal, 62 persen wanita berkedudukan sebagai pengambil keputusan finansial dalam family mereka.

Menurut Financial Planner Bareyn Mochaddin, S.Sy, M.H, RIFA, RFC dalam aktivitas kumparan Hangout Women and Money: Building Financial Freedom Today, rupanya tetap banyak mindset alias pola pikir keliru soal perencanaan keuangan. Pola pikir ini justru menghalang stabilitas keuangan, apalagi berpotensi membikin kita lebih mudah kehabisan uang.

Ilustrasi wanita pusing memikirkan keuangan. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

“Jika keadaan hidup berubah tiba-tiba, apakah kita siap secara finansial? Apakah kita punya tabungan, bekal, dan keahlian finansial? Perencanaan finansial itu bukan hanya soal punya uang, tetapi keahlian untuk membikin sebuah pilihan,” ucap Bareyn pada Sabtu (18/4) lalu.

“Biaya masa depan itu penting. Kalau kita tidak siap dan tidak merencanakan, anak kita kelak bakal kesulitan; untuk kuliah, anak terpaksa cari beasiswa. Ada juga biaya pensiun,” imbuhnya.

Lalu, apa saja pola pikir keliru soal perencanaan finansial nan tetap banyak diyakini perempuan? Simak penjelasan dari Financial Planner Bareyn berikut ini, Ladies.

1. Merasa tak ada duit untuk dikelola

Ilustrasi keuangan. Foto: Shutter Stock

Menurut Bareyn, salah satu pola pikir nan keliru soal perencanaan finansial adalah menolak mengelolanya lantaran tidak punya uang. Padahal, berapa pun penghasilanmu, uangnya kudu dikelola. Justru, dengan perencanaan nan baik, Anda bakal punya duit hingga hari gajian selanjutnya.

2. Merasa bakal ditanggung suami sepenuhnya

Banyak wanita nan setelah menikah, keuangannya ditanggung oleh suami. Meski begitu, Bareyn menegaskan, ini bukan berfaedah wanita bisa terbebas dari pengelolaan finansial pribadi dan tidak mempunyai penghasilan.

Sebab, banyak peristiwa nan memungkinkan suami tidak lagi bisa menanggung finansial istri. Contohnya adalah sakit, PHK, pisah hidup, alias suami meninggal dunia. Inilah mengapa, Bareyn mengingatkan wanita untuk mengelola duit dan berkekuatan secara finansial.

“Suami itu bisa menanggung, bisa juga tidak. Ada juga kondisi-kondisi nan membikin suami tidak bisa menanggung kebutuhan keluarga. Bisa jadi PHK, sakit, dan lain sebagainya,” jelas Bareyn.

3. Perencanaan finansial itu sulit

Ilustrasi catatan finansial Foto: Shutterstock

Salah satu mindset keliru nan dimiliki oleh banyak wanita adalah bahwa perencanaan finansial itu susah dilakukan. Menurut Bareyn, perencanaan finansial tidaklah sulit. Mungkin bakal terasa berat jika belum terbiasa, tetapi lama kelamaan bakal terasa mudah.

4. Telat investasi, menunggu penghasilan besar

Investasi merupakan salah satu instrumen pengelolaan keuangan nan dapat membantu kita menjaga nilai duit di masa mendatang. Namun, banyak wanita nan belum mau berinvestasi lantaran merasa gajinya tetap kecil. Mereka menunda investasi sampai kelak gajinya besar.

Padahal, menurut Bareyn, investasi bisa dilakukan seawal mungkin, apalagi mulai dari Rp 10 ribu saja. Meski begitu, sebelum berinvestasi, wanita kudu memastikan prioritas dan pos-pos finansial lainnya sudah terisi terlebih dahulu.

“Pastikan kita tidak punya utang konsumtif. Jaga asuransi dan biaya darurat, barulah kita bisa berinvestasi. Jangan mulai investasi jika tetap punya angsuran pinjaman online. Jangan lakukan jika belum punya asuransi. Kelola dulu uangnya dengan baik, aliran biaya kudu positif, dan ada sisa duit di akhir bulan. Atau, sejak awal sudah menyisihkan duit buat ditabung alias diinvestasikan,” tutup Bareyn.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan