Wall Street Anjlok Jelang Rilis Data Inflasi AS dan IPO SpaceX

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street melemah ke level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir pada perdagangan Selasa (9/6) nan dipimpin oleh pelemahan saham-saham teknologi.

Investor condong berhati-hati menjelang rilis info inflasi serta penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) SpaceX nan sangat dinantikan pada akhir pekan ini.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 294,03 poin alias 0,58 persen menjadi 50.497,17. Sementara itu, indeks S&P 500 merosot 108,95 poin alias 1,47 persen ke level 7.296,78, dan Nasdaq Composite ambruk 658,24 poin alias 2,54 persen menjadi 25.271,42.

Indeks semikonduktor Philadelphia SE turun nyaris 7 persen setelah sempat menguat hingga 3 persen pada awal perdagangan. Di sisi lain, indeks sektor teknologi S&P 500 melemah 4,4 persen setelah sempat mengalami pemulihan singkat pada Senin (8/6).

Aksi jual pada saham teknologi dan kepintaran buatan (AI) kembali meningkat setelah proyeksi upaya Broadcom nan mengecewakan pada pekan lampau memicu kekhawatiran mengenai tingginya valuasi sektor tersebut, khususnya saham produsen chip nan telah mencatat reli kuat sepanjang tahun ini.

“Selama fase reli terakhir, sebagian besar pertumbuhan dan momentum pasar berasal dari saham teknologi,” ujar Chief Investment Officer GammaRoad Capital Partners, Jordan Rizzuto.

“Saham teknologi biasanya merupakan sektor nan paling sensitif, sehingga tidak mengherankan andaikan meningkatnya ketidakpastian mengenai arah suku kembang mendorong tindakan ambil untung pada sektor tersebut,” lanjutnya.

Penghormatan kepada Ratu Elizabeth muncul di layar papan iklan Nasdaq MarketSite di layar papan iklan Nasdaq MarketSite di Times Square, di New York, AS, Kamis (8/9/2022). Foto: Andrew Kelly/Reuters

Laporan ketenagakerjaan AS nan lebih kuat dari perkiraan pada Jumat (5/6) lampau juga menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) tetap berpotensi meningkatkan suku kembang tahun ini.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar saat ini memperkirakan kesempatan sebesar 43 persen untuk kenaikan suku kembang sebesar 25 pedoman poin pada Desember mendatang.

Investor sekarang menantikan info inflasi konsumen AS untuk Mei nan bakal dirilis Rabu (10/6). Data tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai akibat kenaikan nilai daya akibat perang dengan Iran terhadap tekanan inflasi.

Sementara itu, nilai minyak mentah bumi turun lebih dari 4 persen setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden AS Donald Trump.

Di sisi lain, debut SpaceX di pasar saham pada Jumat (12/6) mendatang juga menjadi perhatian investor. Perusahaan milik Elon Musk itu menargetkan penghimpunan biaya sebesar USD 75 miliar dengan valuasi mencapai USD 1,75 triliun, nan bakal menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah.

Penasihat investasi senior sekaligus mahir strategi pasar Murphy & Sylvest, Paul Nolte, menilai sebagian penanammodal kemungkinan melakukan tindakan ambil untung pada saham-saham semikonduktor nan telah mencatat kenaikan tinggi untuk menyediakan ruang bagi saham SpaceX dalam portofolio mereka.

Dari sisi emiten, produsen makanan bungkusan J.M. Smucker melonjak 12 persen setelah memproyeksikan untung tahunan nan melampaui ekspektasi Wall Street.

Sementara itu, developer obat kanker Nuvalent melesat 35 persen setelah perusahaan farmasi GSK sepakat mengakuisisi perusahaan tersebut senilai USD 10,6 miliar. Kesepakatan itu memberikan valuasi sekitar USD 124 per saham alias premi sekitar 40 persen dibanding nilai penutupan saham sebelumnya.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham nan menguat lebih banyak dibanding nan melemah dengan rasio 1,08 banding 1. Sementara di Nasdaq, saham nan turun lebih banyak dibanding nan naik dengan rasio 1,25 banding 1.

Sepanjang perdagangan, indeks S&P 500 mencatatkan 26 saham nan mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan enam saham nan menyentuh level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite membukukan 135 saham nan mencetak level tertinggi baru dan 102 saham nan menyentuh level terendah baru dalam setahun terakhir.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan