“The End of The World”-nya Skeeter Davis terkenal sebagai lagu hit crossover pop pada 1963. Berbicara tentang kisah sedih di baliknya, memang tidak setragis kisah nan menjadi pemicu produktivitas Eric Clapton untuk menciptakan “Tears in Heaven”.
Eric mesti kehilangan untuk selama-lamanya sang putra terkasih, Conor Clapton, akibat kejadian memilukan pada 20 Maret 1991. Bocah laki-laki berumur empat tahun itu terjatuh dari jendela apartemen lantai ke-53 di New York City. Karya nan begitu individual bagi Eric itu kemudian rilis pada 1992 dan meraih Grammy Awards 1993 untuk Song of the Year dan Record of the Year.
Hampir 30 tahun sebelumnya, Sylvia Dee pada 8 Juni 1962 telah menulis lirik lagu “The End of The World”. Aransemen musiknya pun telah selesai di tangan penggarapan komposer Arthur Kent. Setelah itu, penyanyi country Amerika Serikat, Skeeter Davis, menjalani proses perekaman lagu tersebut di RCA Studios, Nashville.
Kemudian Desember 1962, lagu tersebut resmi bergerak rilis menghampiri publik dengan label RCA Records. Dan, pada Maret 1963, lagu tersebut bisa menggapai puncak popularitasnya serta sukses tampil sebagai petarung andal di jejeran posisi bergengsi pada beragam tangga lagu internasional pada kala itu.
Sekalipun beban kisah nyata nan mendorongkan tenaga produktivitas tidak setragis lagu Eric Clapton tadi, keduanya sama-sama beranjak dari rasa kehilangan orang tercinta masing-masing.
Bila Eric menulis lirik dan menyanyikan lagu “Tears in Heaven” lantaran kehilangan putranya tercinta, maka Sylvia Dee menulis lirik juga sebagai ungkapan kesedihan lantaran kehilangan ayahandanya nan tercinta di masa kecilnya.
Sisi Menarik
Sisi menarik dari lirik lagu “The End of The World” hasil tulisan Sylvia Dee, ialah bisa menerima dua perspektif pandangan. Pertama, sesuai dengan sisi perspektif nan menggambarkan isi hati nan sebenarnya dari penulis lirik tentang perasaannya sebagai anak wanita ketika tetap mini kudu kehilangan sang ayah. Ketika dia berada dalam usia nan begitu memerlukan kehadiran her beloved daddy.
Begitulah Sylvia Dee. Penulis lirik lagu “The End of The World”. Nama pena dari Josephine Moore (22 Oktober 1914 - 12 Juni 1967). Dia membuka rintisan jalan pekerjaan kepenulisannya dengan berkarya cerita pendek di surat berita lokal terbitan Kota Rochester, Negara Bagian New York.
Dee berasosiasi dengan American Society of Composers, Authors, and Publishers (ASCA) pada 1943. Dee bekerja-sama dengan banyak komponis tersohor, antara lain Arthur Kent dan Sidney Lippman. Dee pernah pula menulis naskah teater untuk pagelaran musikal komedi Broadway, ialah Barefoot Boy with Cheek (1947).
Sylvia Dee juga menulis novel. Paling terkenal And Never Been Kissed (1949). Genre fiksi remaja. Begitu terkenal hingga mengalami pengadaptasian ke dalam program Philco Television Playhouse. Dan, ada pengubahan menjadi naskah drama panggung tiga babak nan tersaji sebagai pagelaran di sekolah menengah.
Selain itu, novelnya nan lain dan relatif terkenal pada eranya, ialah Dear Guest and Ghost (1950). Bercerita tentang satu family di Staten Island nan ketamuan hantu veteran Perang 1812. Juga sukses mengalami pengadaptasian ke dalam program televisi. Lalu There Was a Little Girl (1951) nan bergenre novel fiksi remaja.
Sebagai penulis lirik lagu, Sylvia Dee juga pernah menulisnya untuk Nat King Cole lewat “Too Young“. Lagu nan mendapatkan realisasi proses perekaman pada Februari 1951 ini, memperoleh posisi di ranking pertama di tangga Billboard pada Juni 1951 dan memperkuat hingga lima minggu hingga Juli 1951. Majalah Billboard menobatkannya sebagai Lagu Terbaik Sepanjang Tahun 1951.
“Too Young” berbincang tentang respons para remaja nan merasakan kisah cinta mereka nan condong mendapatkan pengecilan maknanya dari orang-orang nan lebih dewasa. Ada dugaan pasangan muda tetap belum cukup waktu untuk bisa memahami makna cinta sejati.
Lewat lagu ini, pasangan muda itu hendak membuktikan, emosi mereka tulus. Mereka berjanji untuk tetap berbareng demi menunjukkan hubungan asmara mereka bukanlah sekadar cinta monyet.
Juga lagu “Bring Me Sunshine”, Sylvia Dee berbareng Arthur Kent menulisnya pada 1966. Bagi komedian Britania Raya, Morecambe dan Wise, lagu nan mereka mengambil pada 1969 tersebut lebih daripada sekadar pembuka acara.
Akan tetapi, telah menjadi semacam “kontrak emosional” dengan para penontonnya. Lagu ini merepresentasikan komitmen mereka untuk menyuguhkan intermezo family nan murni menyenangkan hati.
“Bring Me Sunshine” merupakan lagu nan irama dan liriknya riang ceria itu menjadi lagu tema ikonis duo komedian legendaris Britania Raya tersebut. Lagu ini datang merengkuh harapan, kegembiraan, dan optimisme. Sekaligus merangkul kehangatan dan persahabatan nan menjadi karakter unik performa keduanya.
Dan, tentu saja lagu “The End of The World”, nan menjadi konsentrasi pembahasan tulisan ini. Pelantun lagu ini Skeeter Davis. Nama panggung Mary Frances Penick (30 Desember 1931 - 19 September 2004), penyanyi musik country Amerika Serikat. Salah seorang wanita nan paling awal mencapai superstardom sebagai vokalis solo di genrenya.
Berdasarkan perspekttif pertama, “The End of The World”, keberangkatan penciptaannya berasal dari kesedihan hatinya, lantaran sejak mini sang penulis lirik lagu, Sylvia Dee, sudah kehilangan sang ayahanda.
Seorang letnan Angkatan Udara Amerika Serikat nan wafat saat bekerja dalam Perang Dunia I. Dee memanfaatkan trauma masa silamnya sebagai pendirus inspirasi utama guna membentuk suasana melankolis nan tertanam di lagu tersebut.
Secara psikologis, kehilangan ayah untuk selama-lamanya pada waktu seseorang tetap kecil, memang bisa menimbulkan trauma masa lalu. Kepergiaan figur krusial dari diri seseorang, terlebih manakala nan berkepentingan tetap begitu memerlukan dekapan kasih sayang dan perhatiannya, tidak bisa terkatakan lain selain merupakan peristiwa nan sungguh menyakitkan hati.
Tatkala peristiwa kehilangan figur krusial di masa mini itu terjadi, tidak jarang menorehkan luka psikologis mendalam. Atau, dapat pula memicu syok nan susah mengalami pemrosesan dengan logika sehat dan mengganggu kestabilan emosi hingga ketika menginjak usia dewasa.
Pengalaman demikian boleh terkatakan sah berada dalam kategori trauma masa silam. Dan, Sylvia Dee menemukan corak kanalisasi diri nan positif. Menyalurkan rasa duka cita mendalam itu dengan menulis lirik lagu.
Perspektif Alternatif
Pemahaman dari sisi perspektif pengganti (kedua) lagu “The End of The World” nan mencuat ke puncak popularitasnya pada tahun 1963, berkah kontribusi vokal Skeeter Davis, lirik hasil karya Sylvia Dee, dan tatanan melodi musiknya dari Arthur Kent (2 Juli 1920 - 26 Januari 2009), komponis, pianis, pembimbing musik nan mempunyai nama tengah Lawrence itu. Hal itu juga dapat terarahkan pada strategi penyajian nan lebih dapat berterima bagi khalayak penikmat dengan cakupan nan lebih luas.
Dengan hanya berasas pada teks lirik saja, dan “membiarkan” info dari soal dorongan inspirasi pribadi Sylvia Dee tentang kehilangan ayahandanya pada waktu mini berada pada perspektif orisinal (pertama).
Lagu ini pun bisa datang dalam pemahaman perspektif pengganti (kedua) sebagai lagu sendu tentang kisah asmara nan kepak sayapnya terpatah. Lagu tentang seseorang nan mesti menerima kenyataan, kekasih tercinta memutuskan untuk memungkasi jalinan hubungan.
Untuk masuk ke dalam substansi pemahaman nan lebih dekat, perlu kiranya kita mencermati lirik lagu “The End of The World” dan menegaskan bahwa dia bisa mendapatkan sorotan pembahasan dari dua sisi perspektif tersebut. Berikut quote bait demi bait lagu tersebut.
//Why does the sun go on shining?/ Why does the sea rush to shore?/ Don't they know it's the end of the world?/ 'Cause you don't love me anymore//
(//Kenapa mentari tetap saja bersinar?/ Kenapa air laut menghampiri pantai?/ Tidakkah mereka tahu, bumi telah berakhir?/ Karena kau tidak lagi cinta padaku //)
//Why do the birds go on singing?/ Why do the stars glow above?/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when I lost your love//
(//Kenapa burung-burung tetap saja berkicau?/ Kenapa bintang-bintang di langit malam bercahaya?/ Tidakkah mereka tahu, bumi telah berakhir?/ Terhenti ketika saya kehilangan cintamu//)
//I wake-up in the morning, and I wonder/ Why everything's the same as it was/ I can't understand,/ No, I can't understand/ How life goes on the way it does//
(//Aku terbangun di pagi hari, dan bertanya-tanya/ Kenapa segalanya tampak sama seperti sebelumnya/ Aku tidak mengerti,/ Tidak, saya tidak dapat mengerti/ Kehidupan terus melangkah seperti biasa//)
//Why does my heart go on beating?/ Why do these eyes of mine cry?/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when you said, "Good-bye"//
(//Kenapa jantungku tetap terus berdetak?// Kenapa tangis tetap terurai di kedua mataku?/ Tidakkah mereka tahu, bumi telah berakhir?/ Berakhir saat kau berkata, “Selamat Tinggal.”//)
//Mmm, mmm, mmm, mmm/ (Why do these eyes of mine cry?)/ Mmm, mmm, mmm/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when you said, "Good-bye"//
(//Mmm, mmm, mmm, mmm/ (Kenapa tangis tetap terurai di kedua mataku?/)/ Mmm, mmm, mmm/ Tidakkah mereka tahu, bumi telah berakhir?/ Berakhir saat kau berkata, “Selamat Tinggal.”//).
Sejumlah larik, seperti Cause you don't love me anymore, It ended when I lost your love, alias It ended when you said, "Good-bye”, condong menggiring ke impresi bahwa lirik lagu itu terjadi pada sejoli pemuda dan gadis nan semula saling mencinta.
Dalam perjalanan kisah cinta mereka itu, kemudian timbul perselisihan, dan seorang di antara keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Lalu seorang nan lain, nan tetap memendam asmara meski tidak lagi utuh serta belum bisa menerima keputusan perpisahan itu, merasakan dalam batinnya bahwa seolah dunianya sudah berakhir.
Bisa jadi penonjolan pada perspektif pengganti alias perspektif kedua ini merupakan bagian dari strategi upaya dalam industri musik agar “The End of The World” lebih mudah berada dalam rengkuh penerimaan publik dan mempunyai daya pikat universal. Ia sedikit menggeser perspektif pertama, tentang trauma masa lampau si penulis lirik, Sylvia Dee, lantaran semasa kecilnya kehilangan her beloved daddy.
Terlebih lagi, upaya penggeseran ke arah perspektif nan lebih cair, ringan, dan menjadi angan sebagian besar publik pencinta musik pada masa itu memang bergayung sambut dengan ekspresi lazim remaja alias anak muda ketika merespons hubungan cintanya nan kandas.
Bisa jadi ini sudah menjadi alam harapan, ketika publik kawula muda hendak menikmati lagu pada waktu itu.
Ungkapan kesedihan setelah menerima pemutusan secara sepihak, terutama di pihak gadis, sebagai akhir dari segalanya dengan menganggapnya the end of the world (kiamat) alias the doom (malapetaka) adalah sangat lazim, valid, dan sangat kental pada era 1960-an dalam budaya Barat.
Boleh terbilang, ungkapan seperti itu bukan sempadan ekspresi puitis, melainkan lebih merupakan respons psikologis nan riil tatkala seseorang mengalami rasa kehilangan.
Para remaja alias anak muda nan hidup pada dasawarsa 1960-an berada pada era nan meletakkan anggapan, bahwa romansa merupakan pencapaian hidup nan utama.
Berlainan jauh dari dinamika hubungan asmara di masa sekarang nan lebih terkontrol secara emosional. Bahkan ada kecenderungan mendesakralisasi cinta sejati. Dalam artian, itu bukan segala-galanya. Dan, lebih berpihak untuk menyerahkan restu penyatuannya pada perjalanan proses semesta.
Akan tetapi, bagi para remaja alias anak muda nan hidup pada dasawarsa 1960-an, reaalitas kehilangan cinta sungguh mendekati emosi kehilangan seluruh fondasi untuk melangkah menuju ke masa depan. Lagu alias novel terkenal pada era itu, sebagai media budaya memupuk narasi bahwa menemukan cinta sejati merupakan tujuan hidup seseorang.
Manakala sayap-sayap cinta itu terpatah, terjadilah disonansi kognitif. Suatu kondisi psikologis ketika emosi kurang nyaman alias stres mental. Hal ini dapat memicu keputusasaan mendalam dan emosi terisolasi, seolah-olah seluruh tujuan hidup hancur berkeping-keping seketika.
Berlandaskan tinjauan psikologi, rasa kehilangan nan begitu menderakan keputusasaan bakal mengguncangkan gangguan pada pemikiran logis seseorang.
Dengan demikian boleh terbilang, memandang realitas putus cinta seolah seperti akhir bumi bagi diri seseorang merupakan corak sistem upaya pertahanan diri nan wajar. Terlebih tatkala rasa sakit nan menusuk begitu melumpuhkan semangat hidup.
Pikiran seseorang mereaksi rasa sakit emosional ekstrem dengan langkah mirip merespons ancaman fisik. Menempatkan situasi pada “akhir dunia” terkadang bisa menjadi langkah otak merasionalisasi kehancuran perasaannya pada saat kejadian berlangsung.
Ada semacam pengesahan rasa sakit, dengan pembenaran bahwa patah hati bukan perihal sepele. Ada rasa sakit nan riil, memadamkan sinar antusiasme hidup, dan memerlukan ruang untuk merasakan tanpa perlawanan nan sepenuh frontal. Lebih pada pilihan untuk berdamai, berkompromi.
Memandangi perpisahan nan menduduki takhta “akhir dari segalanya” sesungguhnya merupakan tahapan transisi. Ketika seseorang menerima secara tulus bahwa “dunia lama” telah berakhir, itu berfaedah seseorang itu secara perlahan mulai membuka diri untuk membangun realitas nan lebih kokoh bagi kebaikan dirinya di atas “dunia baru”.
Sekarang nan menimbulkan pertanyaan, di manakah letak perspektif pertama? Trauma masa mini Sylvia Dee nan kehilangan ayahnya? Ada teori nan menandaskan, bahwa perihal ini menjadi landasan dasar emosional pembuatan lirik lagu “The End of The World”.
Walaupun bungkusan liriknya lebih menyerupai lagu patah hati universal, tidak dapat termungkiri prinsip penderitaan dan kebingungan jiwa Sylvia Dee di saat usia muda remajanya akibat hunjaman duka tersebut telah menjadi fondasi kokoh nan menjadi “jiwa” dari lagu itu. Kematian ayahnya mengantarkan Sylvia Dee pada raihan pengalaman emosional ihwal apokaliptik dan kesedihan.
Sylvia Dee tidak menghilangkan sepenuhnya muatan trauma masa kecilnya. Dia bekerja-sama dengan komponis Arthur Kent menyamarkan trauma akibat kematian ayahandanya itu menjadi tema patah hati nan romantis. Dengan tujuan, agar prinsip kehilangan itu dapat lebih mudah berada dalam jangkauan reseptif dan apresiatif khalayak penikmat nan lebih luas.
Sang pengusung lagu “The End of The World” ke puncak popularitas, Skeeter Davis, pun turut mengunyah resonansi emosional. Dia meresapi dan menyanyikan lagu itu untuk mengenang kepergian Betty Jack Davis, sahabat dan rekan duetnya dalam duo The Davis Sisters. nan meninggal akibat kecelakaan mobil beberapa waktu sebelumnya.
Begitulah adanya “The End of The World” menempati posisi unik dengan memberada di dalam ranah aliran Country-Pop dan Easy Listening. Adapun pendekatan aransemennya memanfaatkan style Nashville Sound atau Countrypolitan. Mengombinasikan vokal country dengan sentuhan pop nan lebih lembut dan orkestral. Salah satu pelopor crossover hit pada masanya nan sukses secara berbarengan melenggang ke puncak tangga lagu Pop, Country, dan R&B 1963.
49 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·