Rupiah Pekan Depan Diprediksi Masih di Atas Rp 17.000 per Dolar AS

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Karyawan menghitung duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Nilai tukar rupiah diprediksi tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS sepanjang perdagangan pekan depan. Tekanan terhadap mata duit Garuda dinilai tetap dipengaruhi ketidakpastian sentimen dunia dan domestik.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan rupiah kemungkinan tetap berada di level Rp 17.000-an, meski diharapkan tidak menembus Rp 17.500 per dolar AS.

“Kalau memandang kondisi seperti saat ini, kami memandang bahwa rupiah tetap di level Rp 17.000-an, hopefully tetap di bawah Rp 17.500 per dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi,” ujar Josua dalam aktivitas Pelatihan Wartawan nan digelar Bank Indonesia, dikutip pada Minggu (24/5).

“Kalau kita memandang secara teori, tadi nilai tukar riil efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp 17.000 per dolar AS,” tambahnya.

Josua menyebut rupiah tetap dibayangi sejumlah aspek eksternal dan domestik, termasuk sentimen rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia alias PT DSI.

“Kita mempertimbangkan risiko-risiko global, risiko-risiko nan ada saat ini, dan juga respons kebijakan nan sudah dikeluarkan oleh Bank Indonesia,” tutur Josua.

Rupiah Melemah Bukan Cuma Faktor Global, Ada Tekanan Domestik

Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Josua menekankan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai tidak semata dipicu sentimen global. Tekanan dari dalam negeri juga disebut ikut membebani pergerakan mata duit Garuda sepanjang tahun ini.

Josua mengatakan pada kuartal II 2026 terjadi peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik. Kebutuhan tersebut berasal dari pembayaran dividen emiten kepada pemegang saham hingga kebutuhan kurs asing untuk jemaah haji.

Berdasarkan catatannya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang 2026 nyaris mencapai 5 persen secara year to date (ytd).

Tak hanya terhadap dolar AS, rupiah juga tercatat melemah terhadap kebanyakan mata duit Asia seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, dolar Hong Kong, hingga yuan China. Sementara itu, rupee India justru mengalami penguatan.

“Kita melemah terhadap semua mata duit Asia nan paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia lampau nan kedua terhadap Singapura dolar nan berikutnya terhadap Hong Kong baru terhadap yuan. Jadi jangan terus menyalahkan global,” ujar Josua.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya dikaitkan dengan aspek eksternal. Karena itu, penerapan Local Currency Transaction (LCT) dinilai perlu terus diperkuat, termasuk lewat ekspansi kerja sama dengan bank sentral negara mitra.

Josua menilai langkah tersebut krusial untuk mengurangi kebergantungan terhadap dolar AS, sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan antarnegara.

“Karena kita sudah berkoar-koar di dalam bank sentral nan lain mungkin berkurang, berkoar-koar ke stakeholder-nya mereka,” ungkap Josua.

Berdasarkan info BI hingga April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT mencapai 5.265 pelaku. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.

Jumlah pengguna LCT kemudian naik menjadi 2.602 pelaku pada 2023 dan 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan pada 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT sempat menyentuh 9.720 pelaku.

Sementara itu, nilai transaksi LCT hingga April 2026 tercatat mencapai USD 22,61 miliar alias melonjak 309 persen secara tahunan alias year on year (yoy) dibandingkan periode nan sama tahun lampau sebesar USD 7,33 miliar.

Kenaikan transaksi tersebut mencerminkan semakin luasnya penggunaan mata duit lokal dalam transaksi ekonomi dan finansial internasional. Negara mitra utama Indonesia dalam penerapan LCT saat ini meliputi China, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, disusul Jepang 6 persen, dan Malaysia 3 persen.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan