Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya berakibat pada biaya produksi dan nilai kendaraan, tetapi juga berpotensi mengubah perilaku konsumen di pasar otomotif. Pergeseran preferensi dinilai bisa terjadi, terutama di segmen menengah nan sensitif terhadap kenaikan nilai dan cicilan.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, kesempatan terjadinya penurunan kelas atau down grade dari segmen mobil Rp350 jutaan ke kisaran Rp200 jutaan cukup besar.
“Pergeseran pasar dari mobil sekitar Rp350 juta ke segmen Rp200 jutaan sangat mungkin terjadi jika rupiah lemah berjalan lama,” kata Josua kepada kumparan, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, kejadian tersebut bukan sekadar asumsi, melainkan sudah mulai terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Kenaikan nilai kendaraan dan angsuran membikin pembeli punya pertimbangan lebih kompleks dalam mengambil keputusan.
“Ini bukan hanya dugaan, lantaran indikasi turun kelas sudah terlihat dari perilaku konsumen nan lebih selektif. Ketika nilai mobil baru naik dan angsuran makin berat, sebagian konsumen bakal menunda pembelian, sebagian beranjak ke mobil bekas, dan sebagian lain memilih mobil baru dengan nilai lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, segmen kendaraan di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 300 juta berpotensi menjadi lebih menarik. Faktor efisiensi bahan bakar dan biaya kepemilikan nan lebih rendah menjadi pertimbangan utama konsumen.
“Segmen Rp 200 juta sampai Rp 300 juta berpotensi menjadi lebih menarik, apalagi jika ada model nan menawarkan efisiensi bahan bakar, biaya kepemilikan rendah, dan fitur cukup memadai,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kehadiran kendaraan listrik di rentang nilai tersebut nan mulai menjadi pengganti baru kepemilikan kendaraan.
“Masuknya kendaraan listrik di kisaran tersebut menjadi tawaran menarik sekaligus tantangan bagi kendaraan konvensional, sementara pertumbuhan kendaraan listrik sebelumnya banyak terbantu oleh insentif dan daya beli golongan menengah atas,” ungkapnya.
Josua menegaskan pergeseran ini tidak bakal terjadi secara merata di semua segmen konsumen. Kelompok atas dinilai tetap relatif stabil, sementara golongan menengah lebih rentan terdampak. Kondisi ini berpotensi membikin struktur pasar otomotif menjadi semakin terfragmentasi.
“Jadi, pola nan mungkin terjadi adalah pasar menjadi lebih terbelah. Segmen premium dan konsumen kaya tetap berjalan, meski lebih selektif. Segmen menengah turun ke kendaraan lebih murah alias mobil bekas,” paparnya.
Sementara itu, segmen bawah condong bakal menunda pembelian alias beranjak ke moda transportasi lain seperti sepeda motor. Dampaknya, perubahan tidak hanya terjadi pada volume penjualan, tetapi juga struktur pasar.
“Karena itu, akibat rupiah lemah terhadap otomotif bukan hanya penurunan volume, tetapi juga perubahan struktur pasar menuju kendaraan nan lebih murah, lebih irit energi, dan biaya kepemilikannya lebih rendah,” jelasnya.
Dari sisi kebijakan, dia menilai langkah Bank Indonesia sudah berada di jalur nan tepat dalam menjaga stabilitas. Namun, support dari sisi fiskal dan industri tetap diperlukan untuk menjaga daya tahan sektor otomotif.
“BI sudah berada pada jalur nan relatif tepat dengan mempertahankan BI Rate di 4,75% dan menegaskan stabilisasi rupiah sebagai prioritas. Tidak ada rumor signifikan dari sisi moneter,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat fondasi industri untuk meredam akibat jangka panjang. Salah satunya dengan meningkatkan kandungan lokal dalam industri otomotif.
“Untuk membantu otomotif dan sektor riil, pemerintah perlu memperkuat sisi nan lebih mendasar: menjaga kredibilitas fiskal, mengendalikan subsidi daya secara terukur, mempercepat masuknya devisa hasil ekspor, mengurangi ketidakpastian regulasi, dan memperkuat kandungan lokal otomotif,” tuntasnya.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·