Polisi Kenya menembakkan gas air mata pada Selasa (9/6/2026) untuk membubarkan tindakan protes penduduk di Kota Nanyuki, Kenya tengah, nan menolak pembangunan pusat karantina bagi penduduk Amerika Serikat nan terpapar Ebola. Fasilitas nan dibangun di pangkalan angkatan udara itu tetap dikerjakan meski pengadilan Kenya telah memerintahkan penghentian proyek tersebut. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Dikutip Reuters, Pusat karantina berkapasitas 50 tempat tidur itu memicu kemarahan penduduk setempat. Banyak penduduk menilai Amerika Serikat sedang memindahkan akibat kesehatan ke Kenya dengan menempatkan orang-orang nan terpapar pandemi Ebola dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo dan Uganda untuk menjalani karantina di negara tersebut. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Ketegangan di Nanyuki meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dua orang dilaporkan tewas dalam tindakan protes pekan lampau setelah pemerintah Kenya dan Amerika Serikat kembali menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan rencana pembangunan akomodasi tersebut meskipun terdapat larangan dari pengadilan. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Pada tindakan Selasa pagi, polisi membubarkan kelompok-kelompok mini demonstran nan berkumpul di sejumlah titik kota menggunakan gas air mata. Salah seorang pengunjuk rasa terlihat membawa salib putih bertuliskan "Hormati Ebola" dengan cat merah. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak bakal mengizinkan kasus Ebola masuk ke wilayah Amerika Serikat. Fasilitas di Nanyuki dirancang untuk menampung penduduk Amerika nan telah terpapar virus namun belum menunjukkan gejala. Menurut pejabat AS, pasien nan kemudian mengalami indikasi Ebola bakal dipindahkan ke negara lain untuk mendapatkan perawatan. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Petugas polisi menahan seorang demonstran. Meski menghadapi tantangan hukum, aktivitas pembangunan tetap berlanjut. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Sumber diplomatik dan info pencarian penerbangan menunjukkan pesawat militer AS terus mengangkut staf serta peralatan ke lokasi. (REUTERS/Monicah Mwangi)
Pemerintah AS menyatakan sedang bekerja sama dengan pemerintah Kenya untuk menyelesaikan keberatan norma nan muncul, sementara pejabat Kenya mengatakan akomodasi tersebut nantinya juga dapat digunakan oleh penduduk Kenya dan penduduk negara asing lainnya, meski klaim itu belum dikonfirmasi pihak AS. (REUTERS/Monicah Mwangi)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·