Jika tetap hidup, Ali Sadikin bakal berumur 99 tahun di tahun 2026 ini.
Ya, Ali Sadikin, nan jalan hidup menuntunnya menjadi Gubernur Jakarta paling dikenang sepanjang sejarah Jakarta maupun bangsa ini. Seperti halnya Fiorello La Guardia nan dikenal sebagai wali kota New York terbesar sepanjang sejarah, maupun Jaime Lerner nan meletakkan fondasi pembangunan Curitiba, Brasil sebagai salah satu kota terbaik di dunia.
Lahir di Sumedang pada tanggal 7 Juli 1927 dari family menak Sunda, Ali merintis jalan sebagai prajurit marinir. Lulus dari Sekolah Pelayaran Tinggi, dia terjun ke front Tegal pada 1945 dan menjadi salah satu pendiri Korps Komando (KKO), cikal bakal Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Karirnya meningkat pesat hingga diangkat menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Laut. Bersama R.E. Martadinata, Ali berkeliling mencari support persenjataan dari Amerika Serikat hingga Rusia sebagai persiapan Operasi Trikora di Irian Barat sekaligus membangun Angkatan Laut Republik Indonesia sebagai kekuatan pertahanan maritim terbesar di Asia Tenggara kala itu. Selanjutnya, Presiden Sukarno mengangkatnya sebagai Menteri Perhubungan Laut dan kemudian Menteri Koordinator Kompartemen Kemaritiman. Semuanya terjadi di saat usia Ali belum masuk kepala empat.
Karya
Ketika Presiden Sukarno melantiknya sebagai Gubernur Jakarta pada 28 April 1966, dia menitipkan sebuah kalimat berkata Belanda nan kelak menjadi semacam mandat sekaligus beban sejarah: dit heeft Ali Sadikin gedaan--itulah nan telah diperbuat Ali Sadikin. Orang-orang, kata Sukarno, bakal mengenang bukan jabatannya, melainkan perbuatannya. Sejak hari itu, baik-buruk wajah Jakarta menjadi tanggung jawab nan dipikul Ali sendiri.
Beban itu tidak ringan. Saat Ali mulai menjabat, masyarakat Jakarta sudah mencapai sekitar empat juta jiwa, jauh melampaui proyeksi Batavia nan semula hanya dirancang untuk delapan ratus ribu penghuni. Anggaran nan tersedia kala itu hanya enam puluh juta rupiah, jumlah nan nyaris tak berfaedah untuk membenahi kota sebesar Jakarta.
Untuk membiayai perbaikan kampung, Bappenas apalagi tak bisa mengucurkan biaya lantaran prioritas pembangunan nasional saat itu diarahkan ke sektor pertanian dan industri. Ali kemudian mencari jalan sendiri dengan mengusulkan pinjaman kepada Bank Dunia nan kemudian berbuah menjadi Program Mohammad Husni Thamrin, guna mengenang pendapat Thamrin beberapa dasawarsa sebelumnya dalam mendorong terlaksananya kampongverbetering untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk kampung kota Batavia.
Dan nan paling kontroversial tak lain pengutipan pajak dari pertaruhan nan dilegalkannya. Kebijakan ini menuai kecaman keras, termasuk dari Buya Hamka, namun hasilnya dipakai untuk membangun sekolah, jalan, dan ragam akomodasi kota. Bagi Ali, perbincangan dan komunikasi nan terus-menerus adalah kunci untuk meredam kontroversi tersebut.
Dari sanalah lahir wajah Jakarta nan kita kenal sekarang. Ali mengirim Ciputra mempelajari Disneyland sebagai rujukan pengembangan Ancol, area nan dulu lebih dikenal sebagai tempat ‘jin buang anak’ saking sepinya, nan sekarang mewujud sebagai salah satu ikon rekreasi ibu kota.
Ali juga meminta Adjie Damais menata kota tua beserta museum-museumnya, nan kemudian mempertemukannya dengan Sergio Dello Strologo, mahir tata kota asal Italia. Kawasan kota tua Jakarta nan lama kehilangan pesonanya, akhirnya bersolek kembali pascarevitalisasi. Gongnya, dalam kunjungan perdananya ke Indonesia pada tahun 1974, Ratu Elizabeth II beserta Pangeran Philip apalagi meluangkan waktu unik untuk berjamu ke area kota tua, memandang jejak kejayaan Batavia sebagai kota bandar.
Ketika sineas Misbach Yusa Biran mengusulkan proposal pendirian Sinematek sebagai pusat arsip maupun pusat studi perfilman nasional kepada Ali pada tahun 1975, tanpa pikir panjang dia menyetujui pembentukan ‘Simelatek’ sekaligus menjamin keberlanjutan pendanaannya sebagai pusat arsip movie pertama di Asia Tenggara. Ali kemudian membangun Taman Ismail Marzuki dan beragam gelanggang remaja, lantaran baginya kota besar nan sukses bukan hanya mengisi perut warganya, melainkan juga pikiran dan hatinya.
Yang membedakan Ali Sadikin dari banyak pejabat sezamannya adalah sikapnya terhadap kritik. Dalam biografinya, dia mengaku tak pernah kenyang dikritik. Di masa kepemimpinannya sebagai Gubernur, nyaris setiap hari ada saja pemberitaan surat kabar nan tak mengenakkan tentang Jakarta, namun dia membacanya, menandainya, apalagi mengkliping untuk menjadi masukan pembangunan.
Ali mendukung penuh berdirinya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) nan digagas Adnan Buyung Nasution, baik secara moril maupun materiil, meski LBH kemudian menjadi pengkritik terbesar pemerintahannya sendiri dan acapkali memenangkan gugatan penduduk melawan kebijakannya di pengadilan. Ia tetap mendukung lembaga itu apalagi setelah tak lagi menjabat, lantaran meyakini perihal tersebut baik bagi pendidikan norma dan politik masyarakat.
Legasi
Bagi Ali, kedudukan Gubernur bukanlah puncak karier, mengingat sebelumnya dia pernah menjadi Menteri apalagi Menteri Koordinator. Namun kedudukan itulah nan paling dia syukuri, karena di situ Ali bergesekan langsung dengan hidup penduduk Jakarta, dari dalam kandungan hingga ke liang lahat.
Setelah masa jabatannya berhujung pada tahun 1977, dia tak pernah betul-betul pensiun dari kehidupan publik. Ia berasosiasi dalam Petisi 50, golongan purnawirawan dan tokoh sipil nan secara terbuka mengkritik pemerintahan otoriter Orde Baru, sikap nan konsisten dengan keyakinannya bahwa loyalitas seorang prajurit dan pemimpin sejatinya adalah loyalitas kepada negara, bukan kepada mereka nan sedang berkuasa.
Jejak itu tetap dihormati negara hingga jauh setelah kepergiannya. Pada 10 Agustus 2025 dalam upacara kemiliteran di Batujajar, Bandung, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan pangkat jenderal kehormatan bintang empat kepada Ali nan diterima secara simbolis oleh putranya, Boy Sadikin.
Ali menjadi satu-satunya purnawirawan Korps Marinir nan menyandang pangkat jenderal bintang empat, mengingat jenjang tertinggi nan lazim diraih seorang marinir di negeri ini hanya Letnan Jenderal. Penghormatan tersebut menegaskan bahwa jasanya, baik di medan militer maupun di bangku pemerintahan tetap dipandang relevan oleh generasi nan jauh lebih muda.
Menjelang seratus tahun setelah kelahirannya, kalimat nan dititipkan Sukarno itu terasa semakin pas untuk menutup kisahnya sendiri: dit heeft Ali Sadikin gedaan. Bukan sekadar kedudukan nan dia sandang, melainkan legasi nan dia tinggalkan. Taman dan museum Jakarta nan tetap kita kunjungi, lembaga support norma nan tetap berdiri, dan pesan tentang keberanian memihak kerakyatan nan tetap menunggu untuk betul-betul dijalankan saat ini.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·