Raksasa migas asal Rusia, Rosneft, memperingatkan meningkatnya akibat krisis daya dunia nan berpotensi memicu gejolak ekonomi bumi di tengah ketidakpastian geopolitik, melemahnya peran lembaga internasional, hingga mulai terganggunya rantai pasok energi dan pangan global.
Peringatan tersebut disampaikan CEO Rosneft Oil Company, Igor Sechin, dalam Panel Energi pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Sechin juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Presiden Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keselamatan Lingkungan.
SPIEF merupakan salah satu forum ekonomi terbesar di Rusia nan mempertemukan kreator kebijakan, pelaku usaha, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis global. Forum tahun ini berjalan pada 3–6 Juni 2026 di St. Petersburg dengan agenda utama mencakup ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, dan kerja sama internasional.
Dikutip dari laporan The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?, Selasa (9/6), Sechin menyoroti perubahan tatanan bumi nan dinilai semakin tidak stabil akibat meningkatnya bentrok geopolitik, kebijakan sanksi, serta melemahnya efektivitas lembaga-lembaga internasional.
Menurut Sechin, beragam lembaga dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia juga telah kehilangan keahlian untuk menjalankan kegunaan utamanya sebagai regulator global.
Sechin juga mengkritik penggunaan hukuman ekonomi nan dinilai telah berubah dari instrumen diplomasi menjadi perangkat persaingan nan tidak adil. "Dalam 12 tahun terakhir, sekitar 32.000 hukuman telah dijatuhkan kepada Rusia, sementara volume perdagangan dunia nan terdampak pembatasan terus meningkat," katanya.
Selain itu, Sechin menyoroti perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, nan menurutnya menjadi salah satu titik akibat terbesar bagi perekonomian dunia saat ini. Jalur tersebut merupakan salah satu koridor utama pengedaran minyak, gas alam, serta pupuk dunia.
Gangguan terhadap arus perdagangan di area tersebut berpotensi mendorong lonjakan nilai daya sekaligus memicu kenaikan nilai pangan dunia akibat terganggunya pasokan pupuk.
Ketergantungan terhadap pasokan daya dunia membikin perubahan nilai minyak, gangguan jalur perdagangan, maupun meningkatnya tensi geopolitik berpotensi memengaruhi biaya impor, inflasi, hingga kebijakan daya nasional.
Selain energi, volatilitas nilai pupuk juga dapat berakibat langsung terhadap sektor pertanian. Kenaikan biaya pupuk berisiko meningkatkan biaya produksi petani dan berujung pada kenaikan nilai pangan di dalam negeri.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Sechin menilai Rute Laut Utara (Northern Sea Route) bakal semakin strategis bagi perdagangan dunia. Jalur tersebut dinilai bisa mempercepat pengiriman kargo antarwilayah sekaligus menekan biaya logistik global.
Tak hanya sektor daya dan perdagangan, Sechin juga menyoroti transformasi sistem finansial global. Menurutnya, nilai kapital bumi saat ini melampaui USD 500 triliun alias nyaris lima kali lipat dari produk domestik bruto (PDB) global.
"Meningkatnya penggunaan dolar AS sebagai instrumen hukuman telah mendorong sejumlah negara mengembangkan sistem pembayaran pengganti dan melakukan diversifikasi persediaan devisa," katanya.
Sechin apalagi menyebut Rusia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan lebih dari USD 400 miliar andaikan sebelumnya meningkatkan porsi emas dalam persediaan nasionalnya. Menurutnya, kombinasi ketidakpastian geopolitik, akibat gangguan energi, perubahan sistem finansial global, dan melemahnya efektivitas lembaga internasional menjadi tantangan besar nan perlu diantisipasi bumi dalam beberapa tahun ke depan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·