Jakarta -
Perekonomian Indonesia dihadapkan sejumlah tantangan pada tahun ini. Salah satunya bentrok di Timur Tengah nan memberikan akibat nan luas pada ekonomi global.
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia melambat dari 3,3% tahun lampau menjadi 2,9% pada 2026. Angka ini bakal diperkirakan baru naik ke 3% pada 2027.
Berdasarkan laporan terbarunya nan berjudul OECD Outlook, Interim Report: Testing Resilience jenis Maret 2026, eskalasi bentrok di Timur Tengah telah memberikan akibat pada penopang pertumbuhan ekonomi global. Penyebabnya, penutupan Selat Hormuz membikin seluruh pengiriman daya nyaris berakhir total.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
OECD telah memperkirakan ekonomi dunia tumbuh lebih kuat sebelum meletusnya perang antara Iran melawan campuran Amerika Serikat (AS) dan Israel. Lonjakan nilai daya dan situasi bentrok nan susah diprediksi telah menghapus momentum positif dari investasi teknologi.
Sejumlah negara tetangga RI sendiri telah dibuat kalang kabut imbas perang di Timur Tengah ini. Filipina misalnya, sampai mengumumkan status darurat daya nasional. Sementara, tetangga Indonesia nan lain seperti Singapura, Malaysia hingga Vietnam dilaporkan nilai BBMnya melesat tinggi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memberi respons terhadap kondisi sejumlah negara nan mulai terdampak perang Timur Tengah belum lama ini. Purbaya mengatakan, masalah darurat daya bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan dari suplainya. Indonesia diminta untuk bersiap-siap jika kondisi seperti ini terus terjadi secara berkepanjangan.
"Darurat daya itu bukan di APBN. Darurat daya adalah jika misalnya suplainya berhenti, itu nan saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan tetap ada suplainya. Jadi jika dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan," kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026) lalu.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nan terkoreksi dalam sepanjang tahun 2026 ialah sebesar 18,89%. Selain itu, pasar obligasi seperti Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga terkoreksi 2,03% ke level 433,16 berasas info Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026.
Lantas gimana strategi pemerintah menghadapi beragam tantangan ekonomi ini?
detikcom berbareng Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menggelar Outlook Indonesia: Peran Penggerak Ekonomi Nasional. Acara ini bermaksud untuk mengupas tuntas tantangan dan angan perekonomian nasional.
Forum obrolan ini menghadirkan segenap pemegang kebijakan dan keputusan penting, menghadapi tantangan ekonomi di tahun nan baru, dan memberikan nafas segar bagi Indonesia.
Adapun forum obrolan ini bakal dihadiri oleh Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan RI (OJK) Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan RI (LPS) Anggito Abimanyu sebagai pembicara. Selain itu, forum obrolan tersebut juga bakal menampilkan Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Keynote Speaker.
Outlook Indonesia bakal digelar pada hari ini pukul 15.00 WIB dan disiarkan langsung melalui kanal detikcom. Jangan lewatkan kesempatan ini ya detikers!
Sebagai info tambahan, Outlook Indonesia dipersembahkan oleh Komisi XI DPR RI berbareng detikcom didukung oleh Danantara Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
(acd/acd)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·