Jakarta, CNBC Indonesia - Pendiri raksasa properti China nan tengah didera krisis, Evergrande, Hui Ka Yan secara resmi telah mengaku bersalah atas sejumlah dakwaan berat termasuk penggelapan aset dan suap korporasi. Pengakuan mengejutkan ini disampaikan dalam pernyataan resmi nan dikeluarkan oleh pengadilan setempat setelah proses persidangan nan panjang.
Hui Ka Yan dilaporkan telah menyatakan penyesalan nan mendalam selama persidangan publik nan berjalan pada tanggal 13 dan 14 April di kota Shenzhen. Berdasarkan laporan media pemerintah China, pengusaha nan sempat menjadi simbol kekayaan Asia tersebut tampak pasrah saat menghadapi dakwaan nan diarahkan kepadanya.
"Hui menyatakan penyesalan selama persidangan publik pada 13 dan 14 April di kota Shenzhen," tulis media pemerintah China dalam laporannya dikutip dari BBC, Jumat (17/4/2026).
Pihak pengadilan menyatakan bahwa mereka telah mendengarkan seluruh keterangan dan pembelaan dari terdakwa selama persidangan tersebut. Namun, otoritas norma menegaskan bahwa pengadilan baru bakal mengumumkan vonis final atas kasus nan menjerat Hui Ka Yan ini pada tanggal nan bakal ditentukan di kemudian hari.
"Pengadilan mengatakan bakal mengumumkan vonis atas kasus tersebut pada tanggal nan bakal datang," ungkap pernyataan resmi pengadilan.
Pengakuan bersalah ini menandai momen krusial dalam runtuhnya imperium Evergrande nan telah mengguncang sektor properti China secara masif. Dampak dari kejatuhan perusahaan ini telah membikin para penanammodal internasional dan perbankan domestik di Negeri Tirai Bambu berada dalam kondisi terpuruk.
Evergrande sebelumnya merupakan perusahaan real estat terbesar di China dengan valuasi pasar saham mencapai lebih dari US$50 miliar (Rp859,3 triliun). Namun, kejayaan tersebut sirna setelah perusahaan terjebak dalam krisis utang nan dipicu oleh pinjaman ugal-ugalan pada tahun 2021, nan pada akhirnya membongkar borok upaya mereka.
Dalam persidangan terungkap kebenaran mengejutkan mengenai penyalahgunaan biaya konsumen. Perusahaan diketahui telah mengambil biaya jutaan dolar dari pembayaran awal calon pembeli rumah nan semestinya digunakan untuk pembangunan fisik, namun justru disalahgunakan.
"Pengadilan mendengar bahwa perusahaan telah mengambil jutaan dolar biaya pra-penjualan dari calon pembeli rumah nan tidak digunakan untuk konstruksi. Sebaliknya, biaya tersebut dialihkan ke proyek-proyek baru nan mengakibatkan ratusan properti tidak selesai di seluruh China," bunyi keterangan di persidangan tersebut.
Hui Ka Yan nan juga dikenal dengan nama Xu Jiayin memulai kariernya dari latar belakang nan sederhana di pedesaan China dan dibesarkan oleh neneknya. Ia kemudian memberanikan diri masuk ke bumi pengembangan properti hingga akhirnya mendirikan Evergrande pada tahun 1996 dan merajai pasar.
Kehancuran Evergrande sering disebut-sebut sebagai pemicu utama merosotnya pasar properti China secara terus-menerus sejak tahun 2021. Pada saat keruntuhannya, Evergrande tercatat mempunyai sekitar 1.300 proyek nan sedang dikerjakan di 280 kota di seluruh China.
Perusahaan ini kemudian menyandang predikat sebagai developer properti dengan utang terbesar di bumi lantaran membangun kerajaan bisnisnya di atas tumpukan utang luar biasa. Total tanggungjawab perusahaan tercatat menembus nomor dahsyat nan menggoyang stabilitas ekonomi.
"Evergrande dikenal sebagai developer properti dengan utang paling besar di bumi setelah sebagian besar kerajaannya dibangun di atas duit pinjaman sebesar US$300 miliar (Rp5.156,1 triliun)," tulis laporan tersebut.
Bisnis raksasa ini mulai goyah saat pemerintah Beijing memperkenalkan patokan baru pada tahun 2020 untuk mengendalikan utang sektor properti nan sudah sangat tinggi. Hal ini memaksa Evergrande menjual propertinya dengan potongan nilai besar-besaran demi memastikan adanya arus kas masuk, namun upaya tersebut tidak bisa menyelamatkan perusahaan.
Pada Maret 2024, Hui Ka Yan sendiri telah dijatuhi denda sebesar US$6,5 juta (Rp111,7 miliar) dan dilarang beraktivitas di pasar modal China seumur hidup. Hukuman tersebut diberikan setelah perusahaannya terbukti melakukan manipulasi laporan finansial dengan menggelembungkan pendapatan hingga US$78 miliar (Rp1.340,5 triliun).
Hui sempat menduduki takhta sebagai orang terkaya di Asia dengan kekayaan nan diperkirakan mencapai US$ 42,5 miliar (Rp730,4 triliun) pada tahun 2017 menurut daftar Forbes. Kerajaan upaya Hui pun sempat merambah jauh ke luar sektor properti, mulai dari pembuatan mobil listrik hingga kepemilikan klub sepak bola Guangzhou FC.
Namun kini, kejayaan itu telah berhujung dengan tragis setelah valuasi pasar saham Evergrande menyusut drastis hingga 99%. Puncaknya, saham perusahaan ini resmi dihapus dari bursa pengaruh Hong Kong pada Agustus 2025 setelah lebih dari 15 tahun melantai di pasar modal.
(tps/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·