Psikolog: Bukan Sekolah Tapi Ini yang Dibutuhkan Anak Usia 3 Tahun

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: Ekkasit A Siam/Shutterstock

Moms, di usia 3 tahun, banyak orang tua mulai cemas soal keahlian akademik anak, mulai dari baca, tulis, hingga keahlian Bahasa Inggris. Padahal, di fase ini, ada satu perihal nan sangat krusial dilakukan untuk mendukung perkembangan otak dan tubuh si kecil.

Alih-alih konsentrasi pada akademik terlalu dini, anak justru memerlukan pengalaman nan bisa membentuk dasar perkembangannya. Inilah nan nantinya menjadi pondasi krusial untuk keahlian fokus, izin emosi, hingga kesiapan belajar di masa depan. Penasaran apa saja kegiatannya? Yuk simak penjelasan psikolog di bawah ini!

Stimulasi nan Dibutuhkan Anak Usia 3 Tahun

Ilustrasi balita main sendiri. Foto: Shutter Stock

Menurut psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog pada usia 3 tahun anak memerlukan dasar stimulus nan cukup untuk membentuknya di masa depan.

Beberapa stimulasi nan kudu dilakukan di rumah setiap hari adalah:

  • Proprioseptif (otot dan sendi)
membantu anak lebih tenang dan fokus.
Contoh: mendorong kursi, melompat di kasur, memeluk bantal besar.

  • Vestibular (keseimbangan dan gerak)
penting untuk koordinasi tubuh.
Contoh: bermain ayunan, berlari, naik turun tangga.

  • Tactile (sentuhan)
membantu anak tidak sensitif terhadap rangsangan.
Contoh: bermain pasir, air, slime, alias finger painting.

  • Oral motor dan bahasa
mendukung keahlian bicara dan otot mulut.
Contoh: meniup gelembung, minum dengan sedotan, makan beragam tekstur.

Rutinitas mobilitas harian,
anak butuh banyak bergerak dan eksplorasi, bukan duduk alias tak bersuara terlalu lama.

Bukan Sekadar Pintar, tapi Siap Belajar

Karena di usia 3 tahun, anak perlu eksplorasi sehingga bukan konsentrasi pada sekolah internasional dan bilingual lantaran nantinya bakal berpengaruh pada aktivitas sosial anak.

“Sebaiknya di usia 3 tahun, nan paling krusial adalah stimulasi untuk kesiapan sistem saraf terutama izin emosi, penyesuaian lingkungan, dan kenyamanan sensorik,” jelas Anastasia.

Jika anak terlalu sigap dipaksa konsentrasi pada akademik alias apalagi bilingual, perihal ini bisa membikin anak lebih mudah merasa overwhelmed dan kesulitan beradaptasi.

Jadi, daripada mengejar pencapaian akademik terlalu dini, yuk konsentrasi pada pondasi nan tepat. Karena di usia ini, belajar terbaik datang dari bermain, bergerak, dan bereksplorasi, Moms.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan