Proyek Gas dari Batu Bara Mulai Dibangun, Pertamina Jadi Pembelinya

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Tanjung Enim, CNBC Indonesia - PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya menjadi offtaker alias pembeli alias penyerap produk Dimethyl Ether (DME) hasil hilirisasi batu bara.

Gas DME ini merupakan sumber daya pengganti pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) nan selama ini kebanyakan berasal dari impor.

Komitmen tersebut disampaikan Pertamina menyusul diresmikannya proses pembangunan namalain groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase ke-2 Danantara oleh Presiden Prabowo Subianto pada hari ini, Rabu (29/4/2026).

Peresmian aktivitas groundbreaking 13 proyek hilirisasi oleh Presiden Prabowo Subianto ini dilakukan di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Selain di Cilacap, peresmian juga dilakukan secara serentak di beberapa lokasi, termasuk Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Dari 13 proyek nan diresmikan pembangunan perdananya tersebut, salah satu proyeknya ialah proyek hilirisasi batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini mengatakan bahwa pihaknya siap menyerap produk DME nan dihasilkan dari proyek tersebut.

Adapun, proyek ini diinisiasi oleh BPI Danantara dan dijalankan oleh MIND ID berbareng PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Pertamina, serta mitra strategis lainnya.

"Mudah-mudahan kali ini proyek ini kita bakal gulirkan bersama-sama PTBA, MIND ID dan Insya Allah Pertamina siap offtake produk DME ini. Bismillah, mudah-mudahan lancar," ucapnya dalam aktivitas groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase ke-2 pengembangan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Rabu (29/4/2026).

Emma menilai proyek coal to DME menjadi sangat penting, terutama di tengah kondisi geopolitik dunia nan memicu ketatnya persaingan mendapatkan minyak mentah maupun BBM dan LPG.

Ia lantas mencontohkan sejumlah negara nan mengalami antrean BBM dan LPG akibat keterbatasan pasokan. Menurut dia, meski Indonesia sendiri saat ini statusnya juga tetap sebagai net importer LPG, namun Pertamina terus berupaya menjaga kesiapan pasokan.

"Alhamdulillah Indonesia tetap bisa menjaga kesiapan BBM dan LPG. Alhamdulillah minta support-nya Bapak-Ibu, kita semua berjuang, kami semua di Pertamina berjuang. Tidak mudah Bapak-Ibu, kita tahu betul bahwa Indonesia tetap net importer dan kita tetap belum bisa swasembada energi, terkhusus LPG," kata Emma.

Lebih lanjut, Emma membeberkan bahwa kebutuhan LPG nasional, terutama LPG subsidi terus meningkat dari tahun ke tahun dan sekarang mencapai sekitar 8,2 juta metrik ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 7 juta metrik ton tetap kudu dipenuhi melalui impor. Sementara keahlian pasokan dalam negeri baru berkisar 12-15 persen dari total kebutuhan.

"Jadi ini krusial sekali proyek Coal to DME ini diharapkan bisa menjadi substitusi import dari LPG. Selain untuk meningkatkan devisa, juga tadi multiplier effect-nya sangat jelas, bisa mengoptimalkan sumber-sumber daya domestik," tandasnya.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News